Pasang IKLAN

Mau Pasang iklan?? 30rb/bulan. berminat kirim email ke hadisucipto1989@yahoo.com. Atau isi coment untuk memesan tempat.


Selamat Datang di Blog Gery Casakom Tempat Belajar Bersama Berbagi Ilmu dan Pengalaman
free counters
ShoutMix chat widget

Kamis, 29 Desember 2011

CRM (Customer relationship management)

Pengertian CRM
CRM merupakan sebuah pendekatan baru dalam mengelola hubungan korporasi dan pelanggan pada level bisnis sehingga dapat memaksimumkan komunikasi, pemasaran melalui pengelolaan berbagai kontak yang berbeda dengan pelanggan. Pendekatan ini memungkinakn untuk mempertahankan pelanggan dan memberikan nilai tambah terus menerus pada pelanggan, selain juga memperoleh keuntungan yang berkelanjutan.
Hal yang perlu dipahami adalah bahwa dari luar, pelanggan yang berinterkasi dengan perusahaan hanya memahami bisnis yang dilakukan oleh perusahaan sebagai satu entitas, tidak lebih; meskipun pelanggan juga berinteraksi dengan sejumlah pekerja yang berbeda peran dan departemennya. Semua itu tetap dianggap sebagai satu kesatuan. Dengan CRM, dukungan pada proses bisnis, informasi tentang pelanggan dan interaksinya dapat dimasukkan, disimpan, diakses oleh semua staf pada berbagai unit kerja dengan tujuan untuk meningkatkan layanan yang diberikan pada pelanggan, dan menggunakan informasi kontak pelanggan untuk target pemasaran.
CRM (customer relationship management) mengkombinasikan kebijakan, proses, dan strategi yang diterapkan organisasi menjadi satu kesatuan yang digunakan untuk melakukan interaksi dengan pelanggan dan juga untuk menelusuri informasi pelanggan. Pada era saat ini, implementasi CRM selalu akan menggunakan teknologi informasi untuk menarik pelanggan baru yang mengguntungkan, hingga mereka memiliki keterikatan pada perusahaan.
Konsep ini juga banyak digunakan sebagai sebuah terminologi pada industri informasi sebagai sebuah metodologi, piranti lunak, dan bahkan sebagai kapabilitas internet yang membantu korporasi mengelola hubungan pelanggan. Piranti ini memungkinkan korporasi untuk menjelaskan hubungan secara cukup rinci sehingga manajemen, staf penjualan, staf pelayanan, dan bahkan pelanggan dapat secara langsung mengakses informasi, menyesuaikan kebutuhan antara kebutuhan dan produk, pengingatan pelanggan pada layanan tertentu, dan sebagainya. Dalam pengembangan piranti lunak CRM harus dilakukan pendekatan yang holistik. Terkadang inisiatif implementasi piranti lunak CRM gagal dilakukan karena hanya terbatas pada instalasi piranti saja, tanpa memperhatikan konteks, dukukangan dan pemahaman staf, dan pemenfaatan sepenuhnya sistem informasi.
Variasi CRM
1. Operasional. Operational CRM memberikan dukungan untuk proses bisnis di front office, seperti untuk penjualan, pemasaran, dan staf pelayanan. Interaksi dengan pelanggan biasanya disimban dalam sejarak kontak pelanggan, dan staf dapat melihat kembali informasi pelanggan ketika dibutuhkan. Dengan sejarah kontak pelanggan ini, staf dapat dengan cepat memperoleh informasi penting. Dapat meraih pelanggan dalam waktu dan tempat yang tepat merupakan sesuatu yang sangat diinginkan.
2. Penjualan. Untuk penjualan biasa digunakan Sales Force Automation (SFA). SFA membantu untuk otomatisasi aktivitas yang terkait dengan staf penjualan, seperti untuk penjadwalan menghubungi pelanggan, pengiriman surat kertas maupun elektronik ke pelanggarn, menelusuri respon pelanggan, membuat laporan, menilai tingkat penjualan, proses order penjualan otomatis.
3. Analitik. Analytical CRM menganalisis data pelanggan untuk berbagai tujuan seperti merancang dan menjalankan kampanye target pemasaran, termasuk melakukan cross-selling, up-selling, aiatem informasi manajemen untuk forecasting keuangan dan analisis profitabilitas pelanggan.
4. Intelijen Penjualan. Intelijen Penjualan atau Sales Intelligence dalam CRM adalah sejenis dengan is similar to Analytical CRM, tetapi ditekankan lebih jauh untuk piranti penjualan langsung dengan fitur untuk mencari peluang Cross-selling/ Up-selling/ Switch-selling, kinerja penjualan, kecenderungan pelanggan, margin pelanggan.
5. Manajemen Kampanye. Campaign management mengkombinasikan elemen antara CRM operasional dan analitik agar dapat menjalankan fungsi pembentukan kelompok target dengan kriteria tertentu menggungakan data pelanggan, mengirimkan materi yang terkait dengan kampanye produk untuk calon tertentu menggunakan berbagai saluran seperti e-mail, telephone, SMS, dan surat, menelusuri, menyimpan dan menganalisis statistik kampanye.
6. Kolaboratif. Collaborative CRM mencakup aspek-aspek yang ditangani korporasi yang terkait dengan pelanggan pada berbagai departemen seperti pada bagian penjualan, dukungan teknis, dan pemasaran. Staf dari berbagai departemen pada korporasi yang sama dapat saling bertukar dan berbagi informasi yang dikumpulkan ketika berinteraksi dengan pelanggan. CRM jenis ini bertujuan untuk menggunakan informasi yang dikumpulkan secara bersama di semua departemen untuk peningkatkan kualitas pelayanan yang diberikan.
Strategi CRM
CRM beberapa paket perangkat lunak yang tersedia, dan mereka berbeda dalam pendekatan mereka untuk CRM. Namun, seperti yang disebutkan di atas, CRM tidak hanya teknologi tetapi lebih komprehensif, customer-centric pendekatan ke salah satu organisasi filosofi berhadapan dengan pelanggan.
Hal ini termasuk kebijakan dan proses, dari depan-rumah-layanan pelanggan, pelatihan karyawan, pemasaran, dan sistem informasi manajemen. Oleh karena itu, penting bahwa setiap pelaksanaan pertimbangan CRM stretch melebihi teknologi yang lebih luas terhadap persyaratan organisasi.
Tujuan dari strategi CRM harus mempertimbangkan situasi perusahaan tertentu dan kebutuhan pelanggan dan harapan. Informasi didapat melalui inisiatif CRM dapat mendukung pengembangan strategi pemasaran oleh organisasi mengembangkan pengetahuan dalam bidang-bidang seperti mengidentifikasi segmen pelanggan, meningkatkan ingatan pelanggan, meningkatkan produk persembahan (dengan lebih memahami kebutuhan pelanggan), dan mengidentifikasi organisasi yang paling menguntungkan pelanggan.
Strategi CRM dapat bervariasi dalam ukuran, kompleksitas, dan cakupan. Beberapa perusahaan mempertimbangkan strategi CRM hanya terfokus pada manajemen tim yang terdiri dari salespeople. Namun, strategi CRM lainnya dapat mencakup interaksi pelanggan di seluruh organisasi. Banyak paket perangkat lunak komersial CRM menyediakan fitur yang melayani penjualan, pemasaran, manajemen kegiatan, manajemen proyek, keuangan dan industri.
Implementasi CRM
Faktor Kunci :
• orang-orang yang Professional (kualifikasi memadai),
• proses yang didesain dengan baik
• teknologi yang memadai (leading-edge technology).
5
Tenaga yang professional tidak saja mengerti bagaimana menghadapi pelanggan tetapi juga mengerti cara menggunakan teknologi (untuk CRM)
Prinsip Dasar Dalam Implementasi e-Customer Relationship Management :
u Kebutuhan pelanggan
u Informasi sebagai aset berharga
u Membangun hub. one-to-one dengan pelanggan
u Manajemen yang tidak membingungkan konsumen
u Rekaman transaksi yang menunjang peningkatan volume perdagangan
u BIsa menjangkau konsumen dimana saja dan kapan saja
Strategi dan Implementasi
Sasaran untuk menjalankan strategi CRM harus mempertimbangkan situasi spesifik yang dihadapi perusahaan dan juga kebutuhan dan harapan pelanggan. Informasi yang didapat melalu inisiasi CRM dapat mendukung pengembangan strategi pemasaran dengan mengembangkan pengetahuan pada area-area tertentu seperti identifikasi segmen pelanggan, peningkatan retensi pelangggan, perbaikan produk yang disampaikan, juga identifikasi pelanggan blue chip (yang paling menguntungkan). Sasaran ini dilakukan dengan melakukan manipulasi informasi yang terkait yang selanjutnya dimanfaatkan bersama untuk ditransformasikan menjadi pengetahuan. Pengetahuan ini merupakan pengetahuan yang memungkinkan perusahaan dapat lebih memahami pelanggan, dan digunakan untuk menyesuaikan kapabilitas organisasi agar dapat memberikan nilai yang lebih baik bagi pelanggan. Strategi CRM bervaria dalam besaran, komplesitas, cakupanya. Hal ini akan berpengaruh pada tipe apa CRM dikembangkan. Strategi CRM yang efektif akan fokus pada berbagai saluran. Perusahaan harus secara efektif mengelola saluran ini untuk perbaikan pelayanan.
Kegagalan berbagai projek CRM terutama terkait dengan kualitas dan availabilitas data pelanggan. Data yang baik merupakan isu penting. Ketika perusahaan yang menggunakan CRM untuk menelusuri siklus hidup pendapatan, pembiayaan, margin keuntungan, dan interkasi dengan pelanggan secara individual, maka semua ini harus tergambarkan dengan jelas dalam suatu bisnis proses. Data yang digunakan harus dapat diambil dari berbagai sumber data yang ada di tiap departemen atau bidang yang ada di perusahaan. Sistem yang komprehensif dengan struktur yang telah didefinisikan dengan baik akan meningkatkan kualitas data yang dipakai dalam pengambilan keputusan. Meski saat ini banyak piranti lunak yang tersedia tentang CRM, namun perlu diingat bahwa CRM bukan sekedar teknologi namun lebih pada pendekatan komprehensif yang berpusat pada pelanggan. Implikasinya adalah kebijakan, proses, pelatihan staf, manajemen pemasaran, dan manajemen informasi. Dengan cara pandang ini, CRM merupakan hal yang dapat memberikan peran penting dalam usaha merekayasa proses penjualan untuk memberikan nilai tambah pada pelanggan.
Pelaksanaan isu
Banyak proyek CRM "kegagalan" juga terkait dengan kualitas dan ketersediaan data. Pembersihan data merupakan isu utama. Jika sebuah perusahaan CRM adalah strategi untuk melacak hidup siklus pendapatan, biaya, margin, dan interaksi antara pelanggan individu, ini harus tercermin dalam semua proses bisnis.
Data harus diambil dari berbagai sumber (misalnya, departemen / divisi database seperti penjualan, manufaktur, rantai pasokan, logistik, keuangan, layanan dll), yang memerlukan terpadu, komprehensif sistem dengan baik di tempat-ditetapkan struktur dan data kualitas tinggi . Data dari sistem lain dapat ditransfer ke sistem CRM menggunakan antarmuka yang sesuai.
Karena perusahaan-ukuran lebar dan lingkup banyak implementasi CRM, signifikan pra-perencanaan sangat penting demi kelancaran roll-out. Pra-perencanaan ini melibatkan teknis evaluasi data yang tersedia dan teknologi yang digunakan dalam sistem yang ada. Evaluasi ini sangat penting untuk menentukan tingkat upaya yang diperlukan untuk mengintegrasikan data ini.
Sama-sama penting adalah manusia aspek pelaksanaan. J berhasil pelaksanaan memerlukan pemahaman tentang harapan dan kebutuhan para pemangku kepentingan yang terlibat. Seorang eksekutif sponsor juga harus diperoleh untuk memberikan tingkat tinggi manajemen perwakilan dari CRM proyek.
Yang efektif untuk mengidentifikasi faktor-faktor teknis dan manusia sebelum memulai sebuah proyek CRM merupakan pra-pelaksanaan checklist. J checklist dapat membantu memastikan setiap potensi masalah yang diidentifikasi pada awal proses.

Struktur Pasar

Privasi dan keamanan data Sistem
Salah satu fungsi utama software CRM adalah mengumpulkan informasi tentang pelanggan. Ketika mengumpulkan data sebagai bagian dari solusi CRM, perusahaan harus mempertimbangkan keinginan untuk pelanggan privasi dan keamanan data, serta legislatif dan norma-norma budaya. Beberapa pelanggan lebih suka jaminan bahwa data mereka tidak akan dipakai bersama-sama dengan pihak ketiga tanpa persetujuan dan sebelum mereka yang berada di tempat perlindungan untuk mencegah akses ilegal oleh pihak ketiga.
Studi kasus
Pengembangan Strategi CRM dan Penerapannya pada Singapore Airlines
Dalam perkembangannya CRM semakin berkembang dan memiliki definisi dan ruang lingkup yang semakin luas. para ahli marketing juga berpendapat bahwa tidak mudah mendefinisikan apa itu CRM. Ini dikarenakan luasnya cakupan CRM terhadap aktivitas sales dan marketing yang pada akhirnya menjadi bagian dari manajemen pengetahuan (knowledge management). Tetapi ide atau nafas dari CRM sendiri tidak lain danidak bukan adalah pelayanan.
Karena semakin pentingnya Customer Relationship Management dewasa ini dan ruang lingkupnya yang semakin luas maka kita perlu memahami apa itu CRM, sejarah CRM, range aktivitas dari CRM, aspek-aspek CRM, teknologi dan software yang digunakan, bagaimana implementasinya, keuntungan penggunaan CRM, kesatuan pandangan atas customer, bagaimana beralih dari customer service menjadi CRM, apa itu eCRM, masalah-masalah yang sering timbul, privasi dan keamanan data serta pengaruh dari CRM dalam perusahaan dari berbagai perspektif yang semuanya akan dibahas dalam paper ini.
Singapore Airlines merupakan perusahaan yang menyediakan jasa penerbangan, yang sudah menerima berbagai macam penghargaan. Hal tersebut tidak lepas karena Singapore Airlines menerapkan CRM yang konsisten untuk tetap menjaga dan meningkatkan kepuasan dan kesetiaan pelanggan serta untuk menambah pelanggan baru.

MENGIMPLIMINTASIKAN CRM DENGAN SUKSES

(Vibizmanagement - Service) – Customer Relationship Management (CRM) adalah suatu sistem yang bertujuan supaya bisnis dapat melayani pelanggannya secara lebih baik. Oleh karena itu, maka implementasinya punya peranan yang sangat penting. Namun seringkali usaha pengimplementasian CRM tidak efektif.
Supaya strategi CRM menjadi efektif, maka implementasinya harus didesain supaya sesuai dengan bisnis dari organisasi tersebut. Dengan memastikan bahwa implementasinya tepat, maka baru Anda memperoleh manfaat terbesar dari implementasi CRM tersebut.
Apakah Tujuan dari CRM?
Gagasan dari lahirnya CRM adalah untuk membantu sebuah aktivitas bisnis menggunakan teknologi dan sumberdaya manusia untuk mendapatkan perilaku pelanggan dan nilai nilai yang dimiliki pelangga secara mendalam. Dengan strategi CRM yang efektif, sebuah entitas bisni dapat meningkatkan pendapatan dengan cara:
• Menyediakan produk dan jasa yang benar-benar pelanggan anda butuhkan
• Menawarkan pelayanan yang lebih baik
• Melakukan penjualan produk yang lebih efektif
• Membantu staf penjualan untuk melakukan deal lebih cepat
• Mempertahankan pelanggan yang sudah ada serta mendapatkan pelanggan baru
Apa Saja Keunggulan dari Memasang CRM on-demand dibandingkan dengan CRM on-premise atau sebaliknya?
Dalam beberapa tahun kebelakang, pasar untuk CRM on-demand meningkat untuk perusahaan kelas menengah, hal ini terjadi karena ada ketakutan untuk mengimplementasikan CRM on-premise dari segi biaya, tingkat kesulitan maupun cakupan yang cukup luas. Selain itu juga CRM on-demand seringkali menjadi pilihan yang baik untuk perusahaan yang hanya ingin implementasi proses CRM standard, CRM on-demand juga dapat menggunakan struktur data yang diluar keumuman, dengan sedikit kebutuhan dukungan IT, dan tidak memerlukan integrasi yang rumit serta realtime dengan sistem back office.
Akan tetapi pada kenyataannya tetap CRM on-demand tidak selalu semudah yang vendor anda yakinkan kepada anda. Sebagai contoh kustomisasi dapat menjadi masalah serta perlengkapan API yang disediakan Vendor CRM tidak mampu untuk melakukan integrasi tingkat tinggi yang mungkin dilakukan dengan aplikasi yang sudah ada sebelumnya. Membuat CRM bekerja seharusnya tidak memakan waktu yang lama seperti sebuah software tradisional lainnya, akan tetapi cakupan yang luas dan bidang garapan yang kompleks akan membuat implementasi berlangsung selama lebih dari satu tahun. Dan ketika pilihan untuk menggunakan CRM on-demand mengurangi kebutuhan suport teknikal, pekerjaan upgrade masih dapat dilakukan dengan trik-truk teknikal. Beberapa perusahaan yang memiliki data pelanggan yang cukup sensitif, seperti jasa keuangan dan kesehatan, pada umumnya tidak menginginkan aplikasinya dititipkan pada pihak ketiga karena alasan keamanan. Sehingga pada gilirannya, menurut riset yang dilakukan oleh AMR diramalkan pada tahun 2009 aplikasi CRM on-demand akan digunakan 12% saja dari total pasar CRM di Amerika.
Lalu bagaimana supaya strategi CRM bisa sukses? Berikut ini adalah beberapa kunci sukses:
Dukungan Penuh Pemimpin
Implementasi sistem CRM merupakan suatu perubahan yang cukup signifikan dalam organisasi. Oleh karena itu, sistem CRM ini butuh dukungan penuh dari pemimpin. Pemimpin menentukan arah tujuan CRM, dan berupaya membangun komitmen dari seluruh penjuru organisasi untuk mengimplementasikan CRM secara sukses. Pemimpin adalah orang yang paling paham mengenai apa yang menjadi tujuan, oleh karena itu mereka harus menjadi pihak yang terlibat langsung dalam mendukung dan mensosialisasikan CRM ini kepada semua pihak.

Pemahaman Bisnis yang Baik
Tanpa pemahaman mengenai seluk beluk bisnis secara mendalam, maka CRM tidak akan bisa sukses. Supaya implementasi berjalan lancar, maka mindset service oriented harus terpatri terlebih dahulu. Pahami bagian mana saja yang menjadi aspek customer touch point yang penting. Sehingga, seluruh aspek customer touch point mengkomunikasikan pesan yang konsisten, dan organisasi dapat menjalin hubungan dengan pelanggan secara lebih baik.

Tujuan yang Menyeluruh Implementasi CRM menandakan bahwa bisnis ingin fokus ke arah yang service-oriented. Oleh karena itu, tujuan dari CRM ini harus diselaraskan ke seluruh bagian organisasi, baik itu sales, marketing, customer service, hingga back office dan lainnya. Sehingga, seluruh komponen organisasi fokus pada service oriented, dan bisa memberikan pengalaman yang mengesankan kepada pelanggan. Jadi, CRM bukan hanya menjadi tugas bagian customer service saja, melainkan seluruh komponen organisasi. Metrik-metrik keberhasilan CRM diperlukan sebagai kriteria sukses bagi tiap-tiap departemen.

Adaptasi Perlahan
Perubahan besar yang serta merta terjadi akan lebih sulit diterima. Sebaliknya, jika perubahan sedikit demi sedikit dilakukan maka akan mudah untuk diaplikasikan. Begitu pula dengan CRM, dimana karyawan juga harus melakukan penyesuaian terhadap perangkat dan proses bisnis yang baru. Jika karyawan sudah berhasil adaptasi, maka mereka akan lebih termotivasi dan produktivitasnya juga meningkat.


Evaluasi
CRM hanya bisa diterapkan dengan sukses jika terdapat evaluasi dan maintenance secara terus menerus. Lingkungan bisnis selalu mengalami perubahan, oleh karena itu, maka CRM juga harus terus beradaptasi. Idealnya, ada pihak yang menangani evaluasi perubahan-perubahan yang terjadi baik di internal bisnis, pelanggan, karyawan, maupun perubahan eksternal dan lainnya. Evaluasi ini dibutuhkan demi memastikan bahwa CRM berkembang dan beradaptasi dengan baik, sesuai dengan perubahan yang terjadi, sehingga dapat meningkatkan hubungan dengan pelanggan lebih baik lagi di masa depan.

Pengembangan Sistem Informasi 1

PENGEMBANGAN
SISTEM INFORMASI
Pengembangan sistem merupakan penyusunan suatu sistem yang baru untuk
menggantikan sistem yang lama secara keseluruhan atau memperbaiki
sistem yang telah ada.
1. Tim Pengembangan Sistem
Pengembangan sistem tentunya harus didukung oleh personalpersonal
yang kompeten di bidangnya. Suatu Tim biasanya terdiri dari :
1. Manajer Analis Sistem
2. Ketua Analis Sistem
3. Analis Sistem Senior
4. Analis Sistem Junior
5. Pemrogram Aplikasi Senior
6. Pemrogram Aplikasi Junior
Jumlah personil Tim di atas diperlukan apabila sistem yang akan
dikembangkan cukup besar. Apabila sistem yang akan dikembangkan kecil,
maka personilnya dapat disesuaikan berdasarkan kebutuhan.
2. Perlunya Pengembangan Sistem
Sistem lama yang perlu diperbaiki atau diganti disebabkan karena
beberapa hal :
1. Adanya permasalahan-permasalahan (problems) yang timbul di sistem
yang lama. Permasalahan yang timbul dapat berupa :
􀂙 Ketidakberesan sistem yang lama
Ketidakberesan dalam sistem yang lama menyebabkan sistem yang
lama tidak dapat beroperasi sesuai dengan yang diharapkan.
􀂙 Pertumbuhan organisasi
Kebutuhan informasi yang semakin luas, volume pengolahan data
semakin meningkat, perubahan prinsip akuntansi yang baru
menyebabkan harus disusunnya sistem yang baru, karena sistem yang
lama tidak efektif lagi dan tidak dapat memenuhi lagi semua kebutuhan
informasi yang dibutuhkan manajemen.
2. Untuk meraih kesempatan-kesempatan
Dalam keadaan persaingan pasar yang ketat, kecepatan informasi atau
efisiensi waktu sangat menentukan berhasil atau tidaknya strategi dan

rencana-rencana yang telah disusun untuk meraih kesempatankesempatan
dan peluang-peluang pasar, sehingga teknologi informasi
perlu digunakan untuk meningkatkan penyediaan informasi agar dapat
mendukung proses pengambilan keputusan yang dilakukan oleh
manajemen.
3. Adanya instruksi dari pimpinan atau adanya peraturan pemerintah
Penyusunan sistem yang baru dapat juga terjadi karena adanya instruksiinstruksi
dari atas pimpinan ataupun dari luar organisasi, seperti misalnya
peraturan pemerintah
3. Indikator Diperlukannya Pengembangan Sistem
1. Keluhan pelanggan
2. Pengiriman barang yang sering tertunda
3. Pembayaran gaji yang terlambat
4. Laporan yang tidak tepat waktu
5. Isi laporan yang sering salah
6. Tanggung jawab yang tidak jelas
7. Waktu kerja yang berlebihan
8. Ketidakberesan kas
9. Produktivitas tenaga kerja yang rendah
10. Banyaknya pekerja yang menganggur
11. Kegiatan yang tumpang tindih
12. Tanggapan yang lambat terhadap pelanggan
13. Kehilangan kesempatan kompetisi pasar
14. Persediaan barang yang terlalu tinggi
15. Pemesanan kembali barang yang tidak efisien
16. Biaya operasi yang tinggi
17. File-file yang kurang teratur
18. Keluhan dari supplier karena tertundanya pembayaran
19. Tertundanya pengiriman karena kurang persediaan
20. Investasi yang tidak efisien
21. Peramalan penjualan dan produksi tidak tepat
22. Kapasitas produksi yang menganggur
23. Pekerjaan manajer yang terlalu teknis
24. DLL.

4. Dengan adanya sistem baru diharapkan terjadi peningkatan dalam
hal :
1. Kinerja, yang dapat diukur dari throughput dan respon time.
Throughput : jumlah pekerjaan yang dapat dilakukan pada suatu saat
tertentu
Respon time : Rata-rata waktu tertunda di antara dua transaksi.
2. Kualitas informasi yang disajikan
3. Keuntungan (penurunan biaya). Berhubungan dengan jumlah
sumber daya yang digunakan
4. Kontrol (pengendalian)
5. Efisiensi
6. Pelayanan
5. Prinsip Pengembangan Sistem
Prinsip-prinsip pengembangan sistem, adalah :
1. Sistem yang dikembangkan adalah untuk manajemen
2. Sistem yang dikembangkan adalah investasi modal yang besar
Maka setiap investasi modal harus mempertimbangkan 2 hal berikut ini :
- Semua alternatif yang ada harus diinvestigasikan
- Investasi yang terbaik harus bernilai
3. Sistem yang dikembangkan memerlukan orang yang terdidik
4. Tahapan kerja dan tugas-tugas yang baru dilakukan dalam proses
pengembangan sistem
5. Proses pengembangan sistem tidak harus urut
6. Jangan takut membatalkan proyek
7. Dokumentasi harus ada untuk pedoman dalam pengembangan sistem
6. Siklus Hidup Pengembangan Sistem
Bila dalam operasi sistem yang sudah dikembangkan masih timbul
permasalahan-permasalahan yang tidak dapat diatasi dalam tahap
pemeliharaan sistem, maka perlu dikembangkan kembali suatu sistem untuk
mengatasinya dan proses ini kembali ke proses yang pertama. Siklus ini
disebut dengan Siklus Hidup suatu Sistem.
Siklus Hidup Pengembangan Sistem dapat didefinisikan sebagai
serangkaian aktivitas yang dilaksanakan oleh profesional dan pemakai sistem
informasi untuk mengembangkan dan mengimplementasikan sistem
informasi.

Siklus hidup pengembangan sistem informasi saat ini terbagi atas enam fase,
yaitu :
a. Perencanaan sistem
b. Analisis sistem
c. Perancangan sistem secara umum / konseptual
d. Evaluasi dan seleksi sistem
e. Perancangan sistem secara detail
f. Pengembangan Perangkat Lunak dan Implementasi sistem
g. Pemeliharaan / Perawatan Sistem
Keenam fase siklus hidup pengembangan sistem ini dapat digambarkan
seperti pada Gambar di bawah ini.
Gambar 2.1 Siklus Hidup Pengembangan Sistem
a. Fase Perencanaan Sistem
Dalam fase perencanaan sistem :
• Dibentuk suatu struktur kerja strategis yang luas dan pandangan sistem
informasi baru yang jelas yang akan memenuhi kebutuhan-kebutuhan
pemakai informasi.

• Proyek sistem dievaluasi dan dipisahkan berdasarkan prioritasnya. Proyek
dengan prioritas tertinggi akan dipilih untuk pengembangan.
• Sumber daya baru direncanakan untuk, dan dana disediakan untuk
mendukung pengembangan sistem.
Selama fase perencanaan sistem, dipertimbangkan :
• faktor-faktor kelayakan (feasibility factors) yang berkaitan dengan
kemungkinan berhasilnya sistem informasi yang dikembangkan dan
digunakan,
• faktor-faktor strategis (strategic factors) yang berkaitan dengan
pendukung sistem informasi dari sasaran bisnis dipertimbangkan untuk
setiap proyek yang diusulkan. Nilai-nilai yang dihasilkan dievaluasi untuk
menentukan proyek sistem mana yang akan menerima prioritas yang
tertinggi.
Faktor kelayakan
(feasibility factors)
Faktor strategis
(strategic factors)
• Kelayakan teknis • Produktivitas
• Kelayakan ekonomis • Diferensiasi
• Kelayakan legal • Manajemen
• Kelayakan operasional
• Kelayakan rencana
Suatu sistem yang diusulkan harus layak, yaitu sistem ini harus memenuhi
kriteria-kriteria sebagai berikut :
􀂋 Kelayakan teknis untuk melihat apakah sistem yang diusulkan dapat
dikembangkan dan diimplementasikan dengan menggunakan teknologi
yang ada atau apakah teknologi yang baru dibutuhkan.
􀂋 Kelayakan ekonomis untuk melihat apakah dana yang tersedia cukup
untuk mendukung estimasi biaya untuk sistem yang diusulkan.
􀂋 Kelayakan legal untuk melihat apakah ada konflik antara sistem yang
sedang dipertimbangkan dengan kemampuan perusahaan untuk
melaksanakan kewajibannya secara legal.
􀂋 Kelayakan operasional untuk melihat apakah prosedur dan keahlian
pegawai yang ada cukup untuk mengoperasikan sistem yang diusulkan
atau apakah diperlukan penambahan/pengurangan prosedur dan keahlian.
􀂋 Kelayakan rencana berarti bahwa sistem yang diusulkan harus telah
beroperasi dalam waktu yang telah ditetapkan.
Selain layak, proyek sistem yang diusulkan harus mendukung faktor-faktor
strategis,seperti
􀂋 Produktivitas mengukur jumlah output yang dihasilkan oleh input yang
tersedia. Tujuan produktivitas adalah mengurangi atau menghilangkan
biaya tambahan yang tidak berarti. Produktivitas ini dapat diukur dengan
rasio antara biaya yang dikeluarkan dengan jumlah unit yang dihasilkan.
􀂋 Diferensiasi mengukur bagaimana suatu perusahaan dapat menawarkan
produk atau pelayanan yang sangat berbeda dengan produk dan
pelayanan dari saingannya. Diferensiasi dapat dicapai dengan
meningkatkan kualitas, variasi, penanganan khusus, pelayanan yang lebih
cepat, dan biaya yang lebih rendah.
􀂋 Manajemen melihat bagaimana sistem informasi menyediakan informasi
untuk menolong manajer dalam merencanakan, mengendalikan dan
membuat keputusan. Manajemen ini dapat dilihat dengan adanya laporanlaporan
tentang efisiensi produktivitas setiap hari.
b. Fase Analisis Sistem
Dalam fase ini :
• Dilakukan proses penilaian, identifikasi dan evaluasi komponen dan
hubungan timbal-balik yang terkait dalam pengembangan sistem; definisi
masalah, tujuan, kebutuhan, prioritas dan kendala-kendala sistem;
ditambah identifikasi biaya, keuntungan dan estimasi jadwal untuk solusi
yang berpotensi.
• Fase analisis sistem adalah fase profesional sistem melakukan kegiatan
analisis sistem.
• Laporan yang dihasilkan menyediakan suatu landasan untuk membentuk
suatu tim proyek sistem dan memulai fase analisis sistem.
• Tim proyek sistem memperoleh pengertian yang lebih jelas tentang alasan
untuk mengembangkan suatu sistem baru.
• Ruang lingkup analisis sistem ditentukan pada fase ini. Profesional sistem
mewawancarai calon pemakai dan bekerja dengan pemakai yang
bersangkutan untuk mencari penyelesaian masalah dan menentukan
kebutuhan pemakai.
• Beberapa aspek sistem yang sedang dikembangkan mungkin tidak
diketahui secara penuh pada fase ini, jadi asumsi kritis dibuat untuk
memungkinkan berlanjutnya siklus hidup pengembangan sistem.
• Pada akhir fase analisis sistem, laporan analisis sistem disiapkan. Laporan
ini berisi penemuan-penemuan dan rekomendasi. Bila laporan ini disetujui,
tim proyek sistem siap untuk memulai fase perancangan sistem secara

umum. Bila laporan tidak disetujui, tim proyek sistem harus menjalankan
analisis tambahan sampai semua peserta setuju.
c. Fase Perancangan Sistem secara Umum/Konseptual
Arti Perancangan Sistem
- Tahap setelah analisis dari Siklus Hidup Pengembangan Sistem
- Pendefinisian dari kebutuhan kebutuhan fungsional
- Persiapan untuk rancang bangun implementasi
- Menggambarkan bagaimana suatu sistem dibentuk
- Yang dapat berupa penggambaran, perencanaan dan pembuatan sketsa
atau pengaturan dari beberapa elemen yang terpisah ke dalam satu
kesatuan yang utuh dan berfungsi
- Termasuk menyangkut mengkonfirmasikan
Tujuan Perancangan Sistem
- Untuk memenuhi kebutuhan para pemakai sistem
- Untuk memberikan gambaran yang jelas dan rancang bangun yang
lengkap kepada pemrogram komputer dan ahli-ahli teknik lainnya yang
terlibat
Sasaran Perancangan Sistem
- Harus berguna, mudah dipahami dan mudah digunakan
- Harus dapat mendukung tujuan utama perusahaan
- Harus efisien dan efektif untuk dapat mendukung pengolahan transaksi,
pelaporan manajemen dan mendukung keputusan yang akan dilakukan
oleh manajemen, termasuk tugas-tugas yang lainnya yang tidak dilakukan
oleh komputer
- Harus dapat mempersiapkan rancang bangun yang terinci untuk masingmasing
komponen dari sistem informasi yang meliputi data dan informasi,
simponan data, metode-metode, prosedur-prosedur, orang-orang,
perangkat keras, perangkat lunak dan pengendalian intern
Dalam fase ini :
• dibentuk alternatif-alternatif perancangan konseptual untuk pandangan
pemakai. Alternatif ini merupakan perluasan kebutuhan pemakai. Alternatif
perancangan konseptual memungkinkan manajer dan pemakai untuk
memilih rancangan terbaik yang cocok untuk kebutuhan mereka.
• pada fase ini analis sistem mulai merancang proses dengan mengidentifikasikan
laporan-laporan dan output yang akan dihasilkan oleh
sistem yang diusulkan. Data masing-masing laporan ditentukan. Biasanya,

perancang sistem membuat sketsa form atau tampilan yang mereka
harapkan bila sistem telah selesai dibentuk. Sketsa ini dilakukan pada
kertas atau pada tampilan komputer.
• Jadi, perancangan sistem secara umum berarti untuk menerangkan
secara luas bagaimana setiap komponen perancangan sistem tentang
output, input, proses, kendali, database dan teknologi akan dirancang.
Perancangan sistem ini juga menerangkan data yang akan dimasukkan,
dihitung atau disimpan. Perancang sistem memilih struktur file dan alat
penyimpanan seperti disket, pita magnetik, disk magnetik atau bahkan filefile
dokumen. Prosedur-prosedur yang ditulis menjelaskan bagaimana
data diproses untuk menghasilkan output.
d. Fase Evaluasi dan Seleksi Sistem
Akhir fase perancangan sistem secara umum menyediakan point utama untuk
keputusan investasi. Oleh sebab itu dalam fase evaluasi dan seleksi sistem ini
nilai kualitas sistem dan biaya/keuntungan dari laporan dengan proyek sistem
dinilai secara hati-hati dan diuraikan dalam laporan evaluasi dan seleksi
sistem.
Jika tak satupun altenatif perancangan konseptual yang dihasilkan pada fase
perancangan sistem secara umum terbukti dapat dibenarkan, maka semua
altenatif akan dibuang. Biasanya, beberapa alternatif harus terbukti dapat
dibenarkan, dan salah satunya dengan nilai tertinggi dipilih untuk pekerjaan
akhir. Bila satu alternatif perancangan sudah dipilih, maka akan dibuatkan
rekomendasi untuk sistem ini dan dibuatkan jadwal untuk perancangan
detailnya.
e. Fase Perancangan Sistem secara Detail/Fungsional
Fase perancangan sistem secara detail menyediakan spesifikasi untuk
perancangan secara konseptual. Pada fase ini semua komponen dirancang
dan dijelaskan secara detail.
Perencanaan output (layout) dirancang untuk semua layar, form-form tertentu
dan laporan-laporan yang dicetak. Semua output direview dan disetujui oleh
pemakai dan didokumentasikan. Semua input ditentukan dan format input
baik untuk layar dan form-form biasa direview dan disetujui oleh pemakai dan
didokumentasikan.
Berdasarkan perancangan output dan input, proses-proses dirancang untuk
mengubah input menjadi output. Transaksi-transaksi dicatat dan dimasukkan
secara online atau batch. Macam-macam model dikembangkan untuk

mengubah data menjadi informasi. Prosedur ditulis untuk membimbing
pemakai dan pesonel operasi agar dapat bekerja dengan sistem yang sedang
dikembangkan.
Database dirancang untuk menyimpan dan mengakses data. Kendali-kendali
yang dibutuhkan untuk melindungi sistem baru dari macam-macam ancaman
dan error ditentukan. Pada beberapa proyek sistem, teknologi baru dan
berbeda dibutuhkan untuk merancang kemampuan tambahan macam-macam
komputer, peralatan dan jaringan telekomunikasi.
Pada akhir fase ini, laporan rancangan sistem secara detail dihasilkan.
Laporan ini mungkin berisi beribu-ribu dokumen dengan semua spesifikasi
untuk masing-masing rancangan sistem yang terintegrasi menjadi satu
kesatuan. Laporan ini dapat juga dijadikan sebagai buku pedoman yang
lengkap untuk merancang, membuat kode dan menguji sistem; instalasi
peralatan; pelatihan; dan tugas-tugas implementasi lainnya.
Meskipun sejumlah orang telah me-review dan menyetujui setiap komponen
rancangan sistem, review terhadap rancangan sistem secara detail harus
dilakukan kembali secara menyeluruh dan lengkap oleh pemakai sistem dan
personel manajemen, sedangkan profesional sistem mungkin tidak terlibat
dalam kegiatan ini.
Tujuan dilakukannya review secara menyeluruh ini adalah untuk menemukan
error dan kekurangan rancangan sebelum implementasi dimulai. Jika error
dan kekurangan atau sesuatu yang hilang ditemukan sebelum implementasi
sistem, sumber daya yang bernilai dapat diselamatkan dan kesalahan yang
tidak diinginkan terhindari. Setelah semua review secara menyeluruh selesai
dilaksanakan, perubahan-perubahan dibuat dan pemakai dan manajer sistem
menandatangani laporan perancangan secara detail.
Alat-alat Perancangan
Alat-alat perancangan menolong profesional sistem untuk membentuk
struktur sistem yang akan memenuhi kebutuhan pemakai selama aktivitas
analisis. Alat-alat perancangan sistem yang digunakan adalah :
􀁽 Spesifikasi proses untuk menjelaskan bagaimana data ditransformasikan
menjadi informasi, seperti Pseudocode, Structure english, dan Tabel
keputusan.
􀁽 Hierachy Plus Input, Process, Output (HIPO) untuk merepresentasikan
hirarki modul-modul program tidak termasuk dokumentasi interface antar
modul.
􀁽 Structure chart untuk merepresentasikan hirarki modul-modul program
termasuk dokumentasi interface antar modul.
􀁽 Diagram Warnier-Orr (W/O) untuk merepresentasikan struktur program
dari gambaran umum sampai detail.
􀁽 Diagram Jackson untuk merepresentasikan struktur program.

f. Fase Implementasi Sistem dan Pemeliharaan Sistem
Pada fase ini :
• sistem siap untuk dibuat dan diinstalasi.
• Sejumlah tugas harus dikoordinasi dan dilaksanakan untuk implementasi
sistem baru.
• laporan implementasi yang dibuat pada fase ini ada dua bagian, yaitu
o rencana implementasi dalam bentuk Gantt Chart atau Program and
Evaluation Review Technique (PERT) Chart dan
o penjadwalan proyek dan teknik manajemen. Bagian kedua adalah
laporan yang menerangkan tugas penting untuk melaksanakan
implementasi sistem, seperti :
− pengembangan perangkat lunak
− Persiapan lokasi peletakkan sistem
− Instalasi peralatan yang digunakan
− Pengujian Sistem
− Pelatihan untuk para pemakai sistem
− Persiapan dokumentasi
7. Pendekatan Pengembangan Sistem
Terdapat beberapa pendekatan untuk mengembangkan sistem, yaitu
Pendekatan Klasik, Pendekatan Terstruktur, Pendekatan Dari Bawah Ke
Atas, Pendekatan Dari Atas Ke Bawah.
Pendekatan Klasik
Pendekatan Klasik (classical approach) disebut juga dengan Pendekatan
Tradisional (traditional approach) atau Pendekatan Konvensional
(conventional approach). Metodologi Pendekatan Klasik mengembangkan
sistem dengan mengikuti tahapan-tahapan pada System Life Cycle.
Pendekatan ini menekankan bahwa pengembangan akan berhasil bila
mengikuti tahapan pada System Life Cycle.
Permasalahan-permasalahan yang dapat timbul pada Pendekatan
Klasik adalah sebagai berikut :
1. Pengembangan perangkat lunak akan menjadi sulit
Pendekatan klasik kurang memberikan alat-alat dan teknik-teknik di dalam
mengembangkan sistem dan sebagai akibatnya proses pengembangan
perangkat lunak menjadi tidak terarah dan sulit untuk dikerjakan oleh
pemrogram. Lain halnya dengan pendekatan terstruktur yang memberikan
alat-alat seperti diagram arus data (data flow diagram), kamus data (data
dictionary), tabel keputusan (decision table). diagram IPO, bagan
terstruktur (structured chart) dan lain sebagainya yang memungkinkan

pengembangan perangkat lunak lebih terarah berdasarkan alat-alat dan
teknik-teknik tersebut
2. Biaya perawatan atau pemeliharaan sistem akan menjadi mahal
Mahalnya biaya perawatan pada pendekatan sistem klasik disebabkan
karena dokumentasi sistem yang dikembangkan kurang lengkap dan
kurang terstruktur. Dokumentasi ini merupakan hasil dari alat-alat dan
teknik -teknik yang digunakan. Karena pendekatan klasik kurang didukung
oleh alat-alat dan teknik-teknik, maka dokumentasi menjadi tidak lengkap
dan walaupun ada tetapi strukturnya kurang jelas, sehingga pada waktu
pemeliharaan sistem menjadi kesulitan.
3. Kemungkinan kesalahan sistem besar
Pendekatan klasik tidak menyediakan kepada analis sistem cara untuk
melakukan pengetesan sistem, sehingga kemungkinan kesalahankesalahan
sistem akan menjadi lebih besar.
4. Keberhasilan sistem kurang terjamin
Penekanan dari pendekatan klasik adalah kerja dari personil-personil
pengembang sistem, bukan pada pemakai sistem, padahal sekarang
sudah disadari bahwa dukungan dan pemahaman dari pemakai sistem
terhadap sistem yang sedang dikembangkan merupakan hal yang vital
untuk keberhasilan proyek pengembangan sistem pada akhirnya.
Mulai awal tahun 1970 muncul suatu pendekatan baru disebut dengan
Pendekatan Terstruktur. Pendekatan ini pada dasarnya mencoba
menyediakan kepada analis sistem dengan alat-alat dan teknik-teknik untuk
mengembangkan sistem disamping tetap mengikuti ide dari system life cycle.
Pendekatan terstruktur (Structured Approach)
Pendekatan terstruktur dilengkapi dengan alat-alat (tools) dan teknikteknik
yang dibutuhkan dalam pengembangan sistem, sehingga hasil akhir
dari sistem yang dikembangkan akan didapatkan sistem yang strukturnya
didefinisikan dengan baik dan jelas. Beberapa metodologi pengembangan
sistem yang terstruktur telah banyak yang diperkenalkan baik dalam bukubuku,
maupun oleh perusahaan-perusahaan konsultan pengembang sistem.
Metodologi ini memperkenalkan penggunaan alat-alat dan teknik-teknik untuk
mengembangkan sistem yang terstruktur.
Konsep pengembangan sistem terstruktur bukan merupakan konsep
yang baru. Teknik perakitan di pabrik-pabrik dan perancangan sirkuit untuk
alat-alat elektronik adalah dua contoh baru konsep ini yang banyak digunakan
di industri-industri. Konsep ini memang relatif masih baru digunakan dalam
mengembangkan sistem informasi untuk dihasilkan produk sistem yang
memuaskan pemakainya. Melalui pendekatan terstruktur, permasalahanpermasalahan
yang kompleks dalam organisasi dapat dipecahkan dan hasil
dari sistem akan mudah untuk dipelihara, fleksibel, lebih memuaskan

pemakainya, mempunyai dokumentasi yang baik, tepat pada waktunya,
sesuai dengan anggaran biayanya, dapat meningkatkan produktivitas dan
kualitasnya akan lebih baik (bebas kesalahan).
Dari Bawah Ke Atas (Bottom-up Approach)
Pendekatan ini dimulai dari level bawah organisasi, yaitu level
operasional dimana transaksi dilakukan. Pendekatan ini dimulai dari
perumusan kebutuhan-kebutuhan untuk menangani transaksi dan naik ke
level atas dengan merumuskan kebutuhan informasi berdasarkan transaksi
tersebut. Pendekatan ini ciri-ciri dari pendekatan klasik. Pendekatan dari
bawah ke atas bila digunakan pada tahap analisis sistem disebut juga dengan
istilah data analysis, karena yang menjadi tekanan adalah data yang akan
diolah terlebih dahulu, informasi yang akan dihasilkan menyusul mengikuti
datanya.
Pendekatan Dari Atas Ke Bawah (Top-down Approach)
Pendekatan Dari Atas Ke Bawah (Top-down Approach) dimulai dari
level atas organisasi, yaitu level perencanaan strategi. Pendekatan ini dimulai
dengan mendefinisikan sasaran dan kebijaksanaan organisasi. Langkah
selanjutnya dari pendekatan ini adalah dilakukannya analisis kebutuhan
informasi. Setelah kebutuhan informasi ditentukan, maka proses turun ke
pemrosesan transaksi, yaitu penentuan output, input, basis data, prosedurprosedur
operasi dan kontrol. Pendekatan ini juga merupakan ciri-ciri
pendekatan terstruktur. Pendekatan atas-turun bila digunakan pada tahap
analis sistem disebut juga dengan istilah decision analysis, karena yang
menjadi tekanan adalah informasi yang dibutuhkan untuk pengambilan
keputusan oleh manajemen terlebih dahulu, kemudian data yang perlu diolah
didefinisikan menyusul mengikuti informasi yang dibutuhkan.
Pendekatan Sepotong (piecemeal approach)
Pengembangan yang menekankan pada suatu kegiatan/aplikasi
tertentu tanpa memperhatikan posisinya di sistem informasi atau tidak
memperhatikan sasaran organisasi secara global (memperhatikan sasaran
dari kegiatan atau aplikasi itu saja).
Pendekatan Sistem (systems approach)
Memperhatikan sistem informasi sebagai satu kesatuan terintegrasi
untuk masing-masing kegiatan/aplikasinya dan menekankan sasaran
organisasi secara global.
Pendekatan Sistem menyeluruh (total-system approach)
Pendekatan pengembangan sistem serentak secara menyeluruh,
sehingga menjadi sulit untuk dikembangkan (ciri klasik).
Pendekatan Moduler (modular approach)

Pendekatan dengan memecah sistem komplek menjadi modul yang
sederhana, sehingga sistem lebih mudah dipahami dan dikembangkan, tepat
waktu, mudah dipelihara (ciri terstruktur)
Lompatan jauh (great loop approach)
Pendekatan yang menerapkan perubahan menyeluruh secara serentak
menggunakan teknologi canggih, sehingga mengandung resiko tinggi,
terlalu mahal, sulit dikembangkan karena terlalu komplek.
Pendekatan Berkembang (evolutionary approach)
Pendekatan yang menerapkan teknologi canggih hanya untuk aplikasiaplikasi
yang memerlukan saja dan terus dikembangkan untuk periode
berikutnya mengikuti kebutuhan dan teknologi yang ada.
Keuntungan pendekatan terstruktur :
1. Mengurangi kerumitan masalah (reduction of complexity).
2. Konsep mengarah pada sistem yang ideal (focus on ideal).
3. Standarisasi (standardization).
4. Orientasi ke masa datang (future orientation).
5. Mengurangi ketergantungan pada disainer (less reliance on artistry).
8. Metodologi Pengembangan Sistem
Metodologi adalah kesatuan metode-metode, prosedur-prosedur,
konsep-konsep pekerjaan, aturan-aturan, postulat-postulat yang digunakan
oleh suatu ilmu pengetahuan, seni atau disiplin lainnya. Metode adalah suatu
cara, teknik yang sistematik untuk mengerjakan sesuatu. Metodologi
Pengembangan sistem berarti metode-metode, prosedur-prosedur, konsepkonsep
pekerjaan, aturan-aturan dan postulat-postulat (kerangka pemikiran)
yang akan digunakan untuk mengembangkan suatu sistem informasi. Uruturutan
prosedur untuk pemecahan masalah dikenal dengan istilah Algoritma
Metodologi pengembangan sistem adalah metode-metode, prosedurprosedur,
konsep-konsep pekerjaan, aturan-aturan dan postulat-postulat
(dalil) yang akan digunakan untuk mengembangkan suatu sistem informasi.
Klasifikasi dari metodologi :
1. Functional decomposition methodologies
Metodologi ini menekankan pada pemecahan dari sistem ke dalam
subsistem-subsistem yang lebih kecil, sehingga akan lebih mudah untuk
dipahami, dirancang dan ditetapkan. Yang termasuk dalam kelompok
metodologi ini adalah :
- HIPO (Hierarchy plus Input Process Output)
- Stepwise Refinement (SR) atau Iterative Stepwise Refinement (ISR)
- Information Hiding
2. Data Oriented Methodologies
Metodologi ini menekankan pada karakteristik dari data yang akan
diproses. Dikelompokkan ke dalam dua kelas, yaitu :
1. Data flow oriented methodologies, sistem secara logika dapat
digambarkan secara logika dari arus data dan hubungan antar
fungsinya di dalam modul-modul di sistem. Yang termasuk dalam
metodologi ini adalah :
- SADT (Structured Analysis and Design Techniques)
- Composite Design
- SSAD (Structured System Analysis and Design)
2. Data Structured oriented methodologies
Metodologi ini menekankan struktur dari input dan output di sistem.
Yang termasuk dalam metodologi ini adalah :
- JSD (Jackson’s System Development)
- W/O (Warnier/Orr)
3. Prescriptive Methodologies
Yang termasuk dalam metodologi ini adalah :
ISDOS (Information System Design dan Optimization System), merupakan
perangkat lunak yang dikembangkan di University of Michigan. Kegunaan
dari ISDOS adalah mengotomatisasi proses pengembangan sistem
informasi. ISDOS mempunyai dua komponen, yaitu :
1. PSL (Program Statement Language), merupakan komponen utama
dari ISDOS, yaitu suatu bahasa untuk mencatat kebutuhan pemakai
dalam bentuk machine readable form. PSL dirancang sehingga output
yang dihasilkannya dapat dianalisis oleh PSA. PSL merupakan bahasa
untuk menggambarkan sistemnya dan bukan merupakan bahasa
pemrograman prosedural.
2. PSA (Program Statement Analyzer) merupakan paket perangkat lunak
yang mirip dengan kamus data (data dictionary) dan digunakan untuk
mengecek data yang dimasukkan, disimpan, dianalisis dan yang
dihasilkan sebagai output laporan.
15
9. Alat dan Teknik Pengembangan Sistem
Alat-alat pengembangan sistem yang berbentuk grafik diantaranya
adalah :
1. HIPO diagram
2. Data flow diagram
3. Structured chart
4. SADT diagram
5. Warnier / Orr diagram
6. Jackson’s diagram
Beberapa alat berbentuk grafik yang sifatnya umum, yaitu dapat
digunakan disemua metodologi yang ada. Alat-alat ini berupa suatu bagan,
diantaranya :
1. Bagan untuk menggambarkan aktivitas (activity charting) :
a. Bagan alir sistem (System Flowchart)
b. Bagan alir program (Program Flowchart)
- Bagan alir logika program (Program logic Flowchart)
- Bagan alir program komputer (Detailed computer program Flowchart)
c. Bagan alir kerta kerja (Paperwork Flowchart) atau disebut juga Bagan
alir formulir
d. Bagan alir hubungan database (Database relationship Flowchart)
e. Bagan alir proses (Process Flowchart)
f. Gant chart
2. Bagan untuk menggambarkan tata letak (Layout charting)
3. Bagan untuk menggmbarkan hubungan personil (Personal relationship
charting) :
a. Bagan distribusi kerja (Working distribution chart)
b. Bagan organisasi (Organization chart)
Teknik yang digunakan untuk pengembangan sistem diantaranya :
1. Teknik manajemen proyek, yaitu CPM (Critical Path Method) dan PERT
(Program Evaluation and Review Technique). Teknik ini digunakan untuk
penjadwalan proyek
2. Teknik untuk menemukan fakta (Fact finding technique), yaitu teknik yang
dapat digunakan untuk mengumpulkan data dan menemukan fakta-fakta
dalam kegiatan mempelajari sistem yang ada. Teknik ini diantaranya
adalah
- Wawancara (Interview)
- Persiapan yang dilakukan :
- buat janji pertemuan
- pastikan orang yang akan diwawancarai
- pokok permasalahan
- Pada saat wawancara yang perlu diperhatikan :
- Siapa yang akan diwawancarai
- Pokok permasalahan
- Tanggapan
- Kapan akan bertemu kembali
- Observasi (Observation)
- Daftar pertanyaan (Questionaires)
- Pengumpulan Sampel (Sampling)
3. Teknik analisis biaya/manfaat (Cost Effectiveness Analysis atau Cost
Benefit Analysis) adalah suatu teknik yang digunakan untuk menghitung
biaya yang berhubungan dengan pengembangan sistem informasi
seperti ;
- biaya pengadaan
- biaya persiapan
- biaya proyek
- biaya operasi
serta manfaat yang didapat dari sistem informasi seperti ;
- manfaat mengurangi biaya
- manfaat mengurangi kesalahan
- manfaat meningkatkan kecepatan aktivitas
- manfaat meningkatkan perencanaan dan pengendalian manajemen
4. Teknik untuk menjalankan rapat
Tujuan dari rapat dalam pengembangan sistem diantaranya adalah untuk ;
- mendefinisikan masalah
- mengumpulkan ide-ide
- memecahkan permasalahan-permasalahan
- menyelesaikan konflik-konflik yang terjadi
- menganalisis kemajuan proyek
- mengumpulkan data atau fakta
- perundingan-perundingan
Tahapan pelaksanaan kegiatan ;
- merencanakan rapat
- menjalankan rapat
- menindaklanjuti hasil rapat
5. Teknik Inspeksi / Walkthrough
Proses dari analisis dan desain sistem harus diawasi. Pengawasan ini
dapat dilakukan dengan cara memverifikasi hasil dari setiap tahap
pengembangan sistem. Verifikasi hasil kerja secara formal disebut
dengan Inspeksi (inspection) sedangkan yang tidak formal disebut
Walkthrough.
10. Penyebab kegagalan pengembangan sistem :
1. Kurangnya penyesuaian pengembangan sistem
2. Kelalaian menetapkan kebutuhan pemakai dan melibatkan
pemakai
3. Kurang sempurnanya evaluasi kualitas dan analisis biaya
4. Adanya kerusakan dan kesalahan rancangan
5. Penggunaan teknologi komputer dan perangkat lunak yg tidak
direncanakan dan pemasangan teknologi tidak sesuai
6. Pengembangan sistem yang tidak dapat dipelihara
7. Implementasi yang direncanakan dilaksanakan kurang baik

STUDIKASUS PADA RUMAH SAKIT XYZ

Seminar Nasional Aplikasi Teknologi Informasi 2008 (SNATI 2008) ISSN: 1907-5022
Yogyakarta, 21 Juni 2008
A-71
STRATEGIS SISTEM INFORMASI DAN TATAKELOLA TEKNOLOGI INFORMASI:
STUDIKASUS PADA RUMAH SAKIT XYZ
Iwan Purwanto
Sistem Informasi, STMIK Teknokrat Lampung
Jl. H.Z. Abidin Pagaralam 9-11 Labuhan Ratu, Bandar Lampung
E-mail: iwanpurwanto79@gmail.com
Abstraksi
Rumah Sakit XYZ merupakan salah satu rumah sakit umum swasta yang berdomisili di Provinsi Lampung yang
terus berkembang dalam meningkatkan kwalitas pelayanan dan memajukan mutu karyawannya. Berkaitan
dengan perkembangan teknologi yang tidak bisa dihindari, dan sejalan dengan pendayagunaan sisi teknologi di
rumah sakit XYZ, perlu membenahi keadaan infrastruktur seperti pengembangan struktur jaringan,
pengembangan laboratorium, peningkatan sarana dan prasarana pelayanan kesehatan, pengembangan
sumberdaya manusia serta pengembangan aplikasi bisnis dalam rangka automasi fungsi-fungsi bisnisnnya.
Penggunaan sistem informasi yang sesuai dengan kebutuhan organisasi diharapkan dapat meningkatkan
koordinasi antara untu/divisi pada rumah sakit XYZ dan dapat mencegah terjadinya kesimpang siuran
implementasi suatu sistem pada unit yang ada di rumah sakit XYZ Bandar Lampung. Perencanaan strategis
SI/TI ini juga diharapkan mampu meningkatkan keunggulan bersaing di antara rumah sakit swasta di Provinsi
Lampung.
Keywords: SISP (Strategic Information System Planning), Critical Success Factors (CSTs), Value Chain
Analysis, Strategic Option Generator, PETS Analusis, application Portofolio by Matrix, SWOT
Analysis, Strategic Alignment dan Five Forces Model by Porter.
LATAR BELAKANG
Rumah sakit di Indonesia, khususnya rumah
sakit swasta telah cukup banyak yang berhasil dalam
melayani dan menangani pasiennya dengan cepat
dan tepat serta didukung oleh tenaga-tenaga
profesional yang handal di bidangnya. Dengan
fasilitas yang dimiliki, menjadikan rumah sakit
diminati oleh masyarakat, dilain usaha-usahanya
yang dilakukan telah sesuai dengan apa yang
diinginkan oleh masyarakat. Dengan meningkatnya
kecerdasan masyarakat dewasa ini dapat
diperkirakan mana jenis perawatan yang akan
memberikan nilai tinggi atau bahkan sebaliknya.
Dalam mensukseskan kinerja operasional
sebuah rumah sakit, tidak terlepaskan dengan peran
serta perkembangan Teknologi Informasi (TI) baik
sebagai pendukung ataupun sebagai kegiatan inti
operasional. Kini semakin pesatnya perkembangan
Teknologi Informasi (TI) di dunia manyebabkan
semakin banyak pula aspek kehidupan yang
bergantung kepadanya. Fungsi-fungsi layanan yang
disediakan pun semakin beragam. Oleh karena itu TI
kini bukan saja hanya dimiliki, dipakai, dan
dimanfaatkan oleh kalangan tertentu, namun lebih
meluas kepada banyak industri dan kalangan
operator. Dengan semakin meluasnya
perkembangan TI tersebut memberikan dampak
yang semakin signifikan dalam menciptakan potensi
serta peperanan ketergantungan di berbagai sektor
serta kalangan, baik individu maupun kelompok
(organisasi). Bagi kalangan perusahaan, TI bukan
saja hanya dipergunakan sebagai penunjang
operasional dan pencapaian bisnis saja, tetapi
peranannya kini semakin kompleks dengan
diposisikannya TI sebagai faktor penentu pencapaian
bisnis mereka.
Rumah Sakit XYZ Bandar Lampung dalam
memberikan layanannya kepada para pasien
berusaha melakukan persaingan dengan rumah sakit
Abdul Moloek, Rumah Sakit XYZ , Rumah Sakit
Urip Somoharjo, Rumah Sakit Imanuel, Rumah
Sakit Bumi Waras, dan Rumah Sakit Graha Husada.
Layanan yang diberikan oleh pihak rumah sakit,
dapat memberikan kepuasan terhadap pasien dalam
memilih rumah sakit yang diinginkan. Hal tersebut
dapat dijadikan suatu penentu dalam kelangsungan
hidup organisasinya. Nilai baik suatu pelayanan
yang diberikan oleh pihak rumah sakit akan
menunjukan kepuasan tersendiri dan akan
menekankan rasa ketergantungan pada tahap
berikutnya bagi pasien. Sehingga seorang pelanggan
rumah sakit yang merasa puas cenderung akan
memberikan penilaian yang baik terhadap rumah
sakit tersebut dan menjadikan suatu market
tersendiri bagi pihak rumah sakit yang bersangkutan.
Rumah sakit harus mampu mengelola
bagaimana mereka menunjukkan perhatiannya bagi
kebutuhan pelanggan di segala kegiatan baik
operasional ataupun dari segi TI sebagai operasional
utamanya. Untuk memberikan investasi tersebut,
para pengelola biasanya melakukan bermacam cara
untuk mendapatkan pasien, terutama dalam
memberikan pelayanan yang terunggul. Pada
Seminar Nasional Aplikasi Teknologi Informasi 2008 (SNATI 2008) ISSN: 1907-5022
Yogyakarta, 21 Juni 2008
A-72
prinsipnya ada 3 cara dalam memberikan
keunggulan tersebut, yaitu:
Mampu memahami kebutuhan dan keinginan
konsumen/pelanggan termasuk di dalamnya
adalah memahami tipe-tipe
pelanggan/konsumen.
Pengembangan basis data (database) yang lebih
akurat dibandingkan yang dimiliki oleh pesaing
(mencakup data keinginan dan kebutuhan setiap
segmen pelanggan dan perubahan kondisi
persaingan, bagaimana menempatkan maturity
IT di dalamnya).
Pemanfaatan informasi-informasi yang
diperoleh dari riset pasar dalam suatu kerangka
strategis.
Dalam rangka memberikan pelayanan yang
unggul dan bermutu perlu dilakukan analisa
terhadap skema yang berjalan, baik pelayanan
keperawatan (medis), pelayanan administrasi, dan TI
sebagain operasional utamanya. Cara melakukan
penganalisaannya dapat melalui konsep pemasaran
dimana perusahaan yang sudah mulai mengenal
bahwa pemasaran merupakan faktor penting untuk
mencapai sukses usahanya, akan mengetahui cara
dan falsafah baru yang terlibat di dalamnya.
Berdasarkan perkembangan dunia kedokteran
dan gaya kebutuhan kesehatan saat ini dapat
diketahui bahwa:
Prosedur jasa kesehatan bersifat tidak nyata,
tidak dapat disimpan (hilang jika tidak
terpakai), sulit untuk distandarisasi, penghasil
produk itu sendiri dan tidak dapat dipisahkan.
Karena melayani masyarakat dan biasanya
mendapatkan kemudahan dari pemerintah, maka
rumah sakit selalu diotorisasi oleh masyarakat.
Biaya kesehatan biasanya dibayar oleh pihak
ketiga (perusahaan atau asuransi). Hal ini
menyebabkan beberapa kelompok konsumen
tidak begitu sensitif terhadap biaya kesehatan,
sehingga cenderung menggunakan fasilitas
pelayanan kesehatan yang kurang diperlukan.
Adanya kekuatan pemerintah yang terkadang
dapat menghambat perkembangan rumah sakit.
Kewenangan memusatkan sesuatu dalam rumah
sakit kadang-kadang terbagi antara jalur
struktural dan jalur klinik.
Kini mengingat banyak dan maraknya rumah
sakit swasta di Provinsi Lampung menimbulkan
tingginya tingkat persaingan target pasien di
provinsi Lampung. Dalam permainan rumah sakit
yang menjadi fakor utama adalah dari satu pintu,
yaitu pasien/pelanggan, dimana jika rumah sakit
dapat memberikan kepusan bagi pelanggan dengan
diberikannya berbagai nilai lebih, maka akan
menghasilkan goodwill bagi pelanggan/pasien. Hal
itu akan menyebabkan dengan sendirinya akan
munculnya pengakuan dari masyarakat, hingga pada
akhirnya nilai dari suatu rumah sakit akan terangkul.
Dengan demikian berarti kita mampu menguasai
pasar. Namun pada kenyataannya tidak semudah
yang kita bayangkan, pasar terkadang menentukan
lain, akan banyak faktor yang menentukan.
PERMASALAHAN
Dengan semakin berkembangnya jumlah rumah
sakit swasta di Lampung saat ini, maka dirasakan
perlu untuk melakukan perencanaan strategis SI/TI
agar supaya tetap eksis dan dapat memenangkan
persaingan di dunia bisnis khususnya pelayanan jasa
kesehatan. Di sisi lain dalam era teknologi
informasi ini, hampir semua organisasi yang bersifat
medis (rumah sakit) memanfaatkan IT dalam
kegiatan operasionalnya. Akan tetapi kemampuan
perencanaan, pengelolaan dan implementasi SI/TI
yang dikaitkan dengan strategi bisnis perusahaan
nampaknya masih kurang diterapkan.
Hal lain yang tampil adalah kewajiban moral
dari rumah sakit sebagai organisasi yang
memanfaatkan lokasi dan massa sebagai komponen
dimana terdapat nilai tanggung jawab bagi rumah
sakit untuk memberikan sesuatu yang terbaik kepada
masyarakat yang berupa tuntutan kwalitas pelayanan
kesehatan, administrasi, akses penunjang (obat),
akses lokasi, braind image dan keperdulian pada
masyarakat sebagai isu untuk menunjang kepuasan
pelanggan (costummer satisfaction). Hingga
diharapkan melalui dukungan teknologi dan
informasi yang baik pada suatu perusahaan akan
mampu meningkatkan efisiensi, efektifitas, serta
produktifitas dalam menjalankan proses bisnis, serta
dapat mendukung pengimplementasian rencana
strategis SI/TI-nya.
RUANG LINGKUP
Penelitian ini terbatas pada ruang lingkup
Analisa dan Pengembangan Strategis Sistem
Informasi dan Teknologi Informasi di Rumah Sakit
XYZ Bandar Lampung.
Penelitian ini juga diharapkan akan
menghasilkan pemilihan strategis dalam bentuk
strategis bisnis, strategis sistem informasi, dan
strategis teknologi informasi yang berupa jangka
menengah maupun jangka panjang. Hal ini
dimaksudkan agar organisasi dapat memiliki
pedoman dalam mengembangkan SI/TI dimasa kini
maupun di masa yang akan datang.
TUJUAN
Berdasarkan pertanyaan penelitian di atas, maka
penelitian ini memiliki tujuan sebagai berikut :
Guna melakukan intergrasi terhadap sistem
informasi dalam organisasi dan meningkatkan
koordinasi antara unit yang terdapat dalam
struktur organisasi rumah sakit XYZ Bandar
Lampung.
Seminar Nasional Aplikasi Teknologi Informasi 2008 (SNATI 2008) ISSN: 1907-5022
Yogyakarta, 21 Juni 2008
A-73
Mampu menjabarkan perencanaan strategis
sistem informasi dalam mendukung kegiatan
operasional pengobatan dan manajemen rumah
sakit.
Mampu menjabarkan dan memetakkan berbagai
inovasi yang telah dilakukan oleh rumah sakit
XYZ untuk mengatasi persaingan antar rumah
sakit swasta.
Menjelaskan peranan SI/TI dimasa mendatang
di rumah sakit XYZ dengan mengembangkan
action plan dari perencanaan strategis sistem
informasi yang diimplemntasikan dalam bentuk
pengorganisasian dan penjadwalan.
INISIASI PROSES PERENCANAAN
STRATEGIS
Proses inisiasi adalah tahap awal dalam
melakukan penelitian, pada tahap ini proses
perencanaan strategis sistem informasi secara global
akan dipetakkan, mengenai unsur-unsur yang terlibat
dalam perencanaan strategis sistem informasi, proses
dan segmen bisnis, rencana waktu kerja, dan
pengumpulan data. Unsur-unsur yang terdapat di
rumah sakit XYZ adalah:
UNSUR STRUKTURAL
Berdasarkan susunan organisasi yang telah
ditetapkan, dapat dijelaskan bahwa kegiatan
operasional Rumah Sakit XYZ dikelola oleh
Direktur yang bertanggung jawab kepada Ketua
Dewan Pimpinan Rumah Sakit XYZ Bandar
Lampung. Dalam pengelolaannya, direktur dibantu
oleh tiga orang asisten direktur, yaitu Asisten
Direktur Bidang Medis, Asisten Direktur Bidang
Administrasi dan Keuangan, Asisten Direktur
Bidang Umum, dan Staff Fungsional Direktur untuk
pengerjaan tugas-tugas khusus, seperti Internal
Audit, Komite Pengawasan Mutu, HRD, Sekretariat,
Marketing, K3RS. Masing-masing bidang
membawahi sekurang-kurangnya 2 divisi yang
dipimpin oleh manajer, dan manajer membawahi
bagian-bagian yang dikepalai oleh Kepala Bagian.
BIDANG MEDIS DAN KEPERAWATAN
Untuk bidang medis, Direktur dibantu oleh
Wakil Direktur Bidang Medis dan Kepala Bidang
Keperawatan yang tugasnya meliputi :
Wakil Direktur Bidang Medis: Pengelolaan dan
Penyelenggaraan Pelayanan Medis, Penunjang
Medis, Asuhan dan Pelayanan Medis dan
Administrasi Medis pada Instalasi Rawat Inap,
Instalasi Rawat Jalan, Instalasi Rawat Intensif,
Instalasi Gawat Darurat, Instalasi Bedah,
Instalasi Radiologi, Instalasi Patologi, Instalasi
Farmasi, Instalasi Rehabilitasi Medis, Instalasi
Gizi, serta urusan Tata Usaha dan
kerumahtanggaannya.
Kepala Bidang Keperawatan: Menyelenggarakan
pelayanan keparawatan secara bio-psiko-sosialspiritual
yang menyangkut bidang preventif,
kuratif, rehabilitatif dan promorif serta
meningkatkan derajat kesehatan dan
meminimalkan penderitaan berlandaskan
standar asuhan keperawatan dengan sentuhan
keramahan dan kasih terhadap sesama manusia.
BIDANG ADMINISTRASI DAN
KEUANGAN
Tugas Asisten Direktur Bidang Administrasi
dan Keuangan meliputi pengelolaan dan
penyelenggaraan kegiatan Keuangan, Akuntansi dan
Perpajakan, Administrasi Pasien Rawat Inap dan
Rawat Jalan, dan Pembelian.
BIDANG UMUM
Tugas Asisten Direktur Bidang Umum meliputi
pengelolaan dan penyelenggaraan kegiatan
penunjang umum, pemeliharaan sarana rumah sakit,
keamanan dan pengembangan sistem informasi
Rumah Sakit.
ANALISA LINGKUNGAN INTERNAL &
EXTERNAL SI/TI
6.1. Lingkungan Internal IS/IT
Current Portfolio
a.1. Infrastruktur Fisik
Secara fisik Rumah Sakit XYZ terdiri dari
dua gedung yang terpisah. Gedung A adalah gedung
khusus untuk pelayanan rawat inap dan office, serta
Gedung B terdiri dari unit layanan rawat jalan, dan
sebuah jaringan komputer yang menghubungkan
kedua buah gedung tersebut.
INTERNET
MDS MDS4 MDS5 IGATE Proxy Server ICM Web Server CISCO
ROUTER
ETHERNET HOSPITAL NETWORK
ETHERNET HOSPITAL NETWORK
GEDUNG A ( 6 Lantai + Basement)
Gedung B (4 Lantai + Ground + Basement)
Medical Modalities
Gambar .1. Skema Jaringan RS. XYZ Bandar
Lampung
a.2. Aplikasi
Sejak tahun 1994 Rumah Sakit XYZ mulai
mengembangkan aplikasi untuk keperluan
operasionalnya, dan baru tahun 1996 aplikasiaplikasi
tersebut dapat berjalan dengan baik dan
terintegrasi. Infrastruktur aplikasi yang dimiliki oleh
Rumah Sakit XYZ meliputi dua bagian besar dua
Seminar Nasional Aplikasi Teknologi Informasi 2008 (SNATI 2008) ISSN: 1907-5022
Yogyakarta, 21 Juni 2008
A-74
bagian besar yaitu aplikasi Front Office dan Back
Office. Pada aplikasi front office terdiri dari
sejumlah modul utama adalah; poliklinik, unit
penunjang, apotik, laboratorium, rekam medik,
ruang perawatan, admitting/billing, informasi
Sedangkan aplikasi Back Office terdiri dari
sejumlah modul utama adalah; General Ledger,
Account Receivable Customer, Account Receivable
Supplier, Kas & Bank, Logistik & Pembelian
Aplikasi yang dibangun masih menggunakan
teknologi lama yaitu model file server dimana
database yang dipergunakan menggunakan file DBF
dan berjalan di mode DOS dengan Novell Netware
sebagai Netware Operating System.
Berikut ini merupakan alur data yang berjalan
dari masing-masing modul yang dimaksud:
Labs Apotik Poli Penunjang Bangsal
Billing
Admitting
Piutang
Tunai
A/R
G/L
C/B
A/P
Hutang
Tunai
Logistik
Pembelian
Gambar.2. Hubungan antar aplikasi
Untuk menganalisa perangkat lunak yang ada
berdasarkan tingkat kontribusinya di Rumah Sakit
XYZ Bandar Lampung, perangkat lunak tersebut
diklasifikasikan melalui composite matrix atau
‘MacFarlan Grid’. Matrix tersebut
mengkategorisasi/mengklasifikasi portfolio aplikasi
dari suatu organisasi kedalam 4 kuadran (matrix 2 x
2), yaitu High Potential, Strategic, Key Operational,
dan Support. Adapun definisi dari masing-masing
kudran tersebut adalah sebagai berikut:
High Potential
Kuadran ini merupakan klasifikasi portfolio
aplikasi yang bersifat pengembangan ide bisnis
baru atau inovasi dari suatu organisasi dengan
tujuan untuk mencari pangsa pasar yang baru.
Strategic
Kuadran ini merupakan klasifikasi portfolio
aplikasi yang berfokus pada tingkat kompetitif
dari suatu organisasi dalam menghadapi tekanan
dari kompetitor, pasar atau kekuatan dari luar
lainnya.
Key Operational
Kuadran ini merupakan klasifikasi portfolio
aplikasi yang bersifat meningkatkan peforma
(seperti kecepatan, akurasi, dan ekonomis) dari
aktivitas yang sedang berjalan. Dengan kata
lain, klasifikasi portfolio aplikasi ini harus ada
dalam suatu organisasi.
Support
Kuadran ini merupakan klasifikasi portfolio
aplikasi yang bersifat memperbaiki tingkat
produktifitas atau efisiensi terhadap tugas bisnis
spesifik dari suatu organisasi.
PERENCANAAN STRATEGI TI
Infrastruktur Fisik
Berdasarkan analisa lingkungan bisnis berikut
infrastruktur IS/IT yang telah ada serta tingkat
kebutuhan pada masa mendatang (sebagaimana
termuat dalam portfolio aplikasi pada bagian
sebelumnya), maka terdapat sejumlah penambahan
khususnya dari sisi arsitektur infrastruktur jaringan
dalam rangka menunjang rencana strategis
organisasi.
Berikut ini sejumlah daftar rincian dari strategi,
khususnya infrastruktur IT/IS yang perlu dilakukan
pada masa yang akan datang:
Upgrade bandwidth pada sisi backbone jaringan
melalui penggunaan teknologi/protokol LAN 10
Gigabit Ethernet melalui media fiber optic. Hal
ini dibutuhkan untuk menunjang kelancaran
operasional bisnis perusahaan yang tentunya
membutuhkan tingkat transfer data yang tinggi
khususnya dalam hal layanan radiology atau
bentuk layanan medis lainnya.
Migrasi layanan direktori dari Netware
Directory Service menuju Microsoft Active
Directory. Langkah ini diambil guna
memastikan kesiapan RS XYZ dalam
mendukung protokol komunikasi data TCP/IP
yang notabene merupakan standard de facto
terhadap protokol komunikasi data untuk dunia
internet. Implementasi teknis ke depannya,
server Directory Service yang dimaksud akan
menggunakan sistem operasi Microsoft
Windows Server 2003 Standard Edition dan
lebih banyak difungsikan sebagai file server dari
para pegawai.
Melakukan implementasi database server
dengan menggunakan piranti lunak Microsoft
SQL Server 2005 yang berjalan pada sistem
operasi Microsoft Windows Server 2003
Standard Edition. Solusi ini ditujukan untuk
menyimpan data operasional dari para pegawai
RS XYZ Bandar Lampung.
Melakukan implementasi web server dengan
menggunakan Microsoft IIS 6.0 yang berjalan
pada sistem operasi Microsoft Windows 2003
Web Edition. Tentunya langkah ini
dimaksudkan sebagai application server
terhadap portfolio aplikasi yang akan diterapkan
kedepannya (sebagaimana telah diuraikan pada
bagian portfolio aplikasi sebelumnya)
Seminar Nasional Aplikasi Teknologi Informasi 2008 (SNATI 2008) ISSN: 1907-5022
Yogyakarta, 21 Juni 2008
A-75
PERENCANAAN STRATEGI
MANAJEMEN SI/TI
Dalam kegiatan operasional sehari-hari, Rumah
Sakit XYZ sudah memiliki aplikasi IS/IT yang
dikembangkan sendiri (in-house) oleh Divisi TI
yang berada dibawah naungan Bidang Umum.
Melalui aplikasi-aplikasi ini IT Medis dan IT
operasional bisnis secara luas dan optimal digunakan
dalam semua kegitan operasional. Aplikasi dan
infrastruktur Rumah Sakit XYZ didukung dan
dikelola oleh karyawan divisi TI yang mempunyai
kompetensi di bidangnya, namun karena
keterbatasan SDM masih banyak SDM yang
mempunyai tugas rangkap. Untuk itu perlu
ditingkatkan kualitas dan jumlah SDM yang lebih
banyak untuk mendukung kegiatan operasional
sesuai dengan struktur organisasi internal divisi TI.
Hal lain yang dapat menghambat operasional TI
saat ini, adalah sulitnya pengambilan keputusan
secara cepat, yang disebabkan karena kedudukan
Divisi TI masih di bawah Bidang Umum yang
bersifat sebagai penunjang kegiatan rumah sakit.
Dalam sisi pengembangan TI, Rumah Sakit
XYZ dihadapkan pada isu standarisasi aplikasi,
prosedur dan pengawasan serta evaluasi vendor.
Walaupun aplikasi ini sudah dikembangkan oleh
divisi TI kenyataannya tidak adanya strandarisasi
dalam pengembangan aplikasi.
Untuk mengatasi hal tersebut maka perlu
dilakukan perubahan dalam 2 hal berikut.
8.1 Organisasi
Untuk dapat mengelola dan melakukan
pengembangan IT khusunya untuk lingkungan
rumah sakit secara keseluruhan, divisi TI diusulkan
untuk langsung berada di bawah direktur setara
dengan staff fungsional direktur. Hal ini akan
mengakibatkan pemberian wewenang yang lebih
dalam pengelolaan, ruang lingkup, tanggung jawab
dan wewenang untuk mengelola sumber daya
dilingkungan rumah sakit. Sumber daya yang
dimaksud adalah sumber daya teknologi, seperti
aplikasi bisnis dan aplikasi medis, infrastruktur,
sumber daya manusia dan pengelolaan keuangan.
8.2 Kebijakan dan Operasional
Divisi TI perlu memiliki kebijakan dan
peraturan dalam pemanfaatan TI. Kebijakan tersebut
termasuk prosedur standar penggunaan teknologi
oleh semua karyawan. Salah satu contohnya adalah
prosedur permintaan barang-barang TI oleh
karyawan.
Kebijakan lain adalah perlunya standar dalam
mengelola vendor. Divisi TI harus mengembangkan
kriteria dan tata cara pengelolaan vendor, sehingga
divisi TI dapat memilih vendor yang sesuai dengan
kebutuhan perusahaan.
Dalam hal pengembangan teknologi, Divisi TI
perlu membuat sebuah standar pengembangan.
Standar tersebut termasuk standar pengembangan
aplikasi, jaringan, perangkat keras dan
telekomunikasi. Standar ini akan mempermudah
tahap integrasi antar sistem, pengembangan lebih
lanjut dan pemeliharaan sistem.
8.3 Rencana Implementasi
Dari hasil analisa Strategi Bisnis SI, Strategi
Manajemen SI/TI, dan Strategi TI dapat dilihat
rencana strategis SI/TI kedepan yang dapat
menunjang bisnis strategi RS. XYZ Bandar
Lampung. Untuk dapat melaksanakannya,
diperlukan sebuah rencana implementasi terhadap
strategi SI/TI yang dihasilkan tersebut yang berisi
pekerjaan-pekerjaan yang harus dilakukan. Jenisjenis
pekerjaan tersebut; Perbaikan Infrastruktur,
Perbaikan/pengembangan Aplikasi, Perbaikan SOP,
Pengembangan Staff, Standarisasi Asset
KESIMPULAN
Berdasarkan hasil analisa perencanan strategis
sistem informasi, maka kesimpulan yang dapat
diambil adalah:
Meskipun Rumah Sakit XYZ telah memiliki
visi dan misi secara tertulis, namun dalam
pengimplementasiaannya masih jauh dari
penjabaran yang tertulis dalam penjabaran
konteks organisasi.
Berdasarkan perkembangan yang ada, Rumah
Sakit XYZ perlu melakukan pembenahan
dengan menitik beratkan pada perencanaan
strategis SI/TI yang sesuai dengan organisasi.
Sistem infomasi pada rumah sakit perlu
dibenahi agar dapat dilakukan implementasi
dalam bentuk yang lebih terpadu guna
memenuhi keadaan infrastruktur pada setiap
infrastruktur jaringannya, pengembangan
laboratorium, pelayanan pengobatan,
pengembangan sumberdaya manusia serta
pengembangan aplikasi bisnis dalam rangka
automasi fungsi-fungsi bisnisnya.
SDM yang dimiliki oleh organisasi selalu
terpacu untuk mengikuti perkembangan dan
terus belajar agar dapat mengadaptasi dan
mengoperasikannya. Meskipun SDM dituntut
untuk selalu mau belajar, namun hal itu akan
menajadi suatu keuntungan nonfinansial,
dimana keahlian pengetahuan dan keterampilan
SDM akan meningkat.
Strategi manajemen SI/TI pada Rumah Sakit
XYZ yang diturunkan dari hasil penerapan
perencanaan strategis sistem informasi berupa
kebijakan organisasi dalam menerapkan strategi
SI/TI sesuai kondisi manajemen. Strategi
manajemen diantaranya melakukan
pengembangan sistem informasi pada beberapa
bidang, yaitu sistem aplikasi, perangkat keras,
Seminar Nasional Aplikasi Teknologi Informasi 2008 (SNATI 2008) ISSN: 1907-5022
Yogyakarta, 21 Juni 2008
A-76
infrastruktur TI, staf/struktur organisasi, dan
layanan SI/TI.
Strategi TI pada Rumah Sakit XYZ berupa arah
pengembangan teknologi, yaitu:
Mendukung strategi bisnis organisasi
Melakukan pendekatan untuk meyediakan
dukungan teknologi secara optimal dalam
jaringan Rumah Sakit XYZ dengan
komunikasi dan pengiriman data yang
efektif dan efisien melalui jaringan.
Standarisasi SI/TI
Stadarisasi baik dalam sistem hardware
maupun software dan sistem aplikasi untuk
memudahkan pemeliharaan
Membuat teknologi yang mudah digunakan
Dalam pengembangan sistem, hal yang
perlu diperhatikan adalah interface yang
sederhana dan mudah dimengerti oleh
pengguna biasa.
memberikan keyakinan bagi pengguna
secara optimal
Dengan dokumentasi yang lengkap dan
training yang memadai diharapkan
pengguna memahami fungsi dan
kemampuan sistem secara menyeluruh
sehingga dapat digunakan secara optimal.
Menilai ulang SI/TI
Hal ini diperlukan untuk menunjau kembali
fungsi teknologi pada organisasi secara
berkala sehingga benar-benar sesuai dan
tepat.
Perencanaan strategis akan memposisikan
rumah sakit selangkah lebih maju dari pesaing,
sehingga kemampuan untuk meraih pangsa
pasar semakin besar.
PUSTAKA
[1] McFarlan, F.W. and McKenny, J.L, The
Information Archipelago-Governing The
New World, Harvad Business Review, 1983.
[2] Rangkuti, F., Analisa SWOT Teknik
Membedah Kasus Bisnis, Gramedia Pustaka
Umum, Jakarta 999, 2000.
[3] Remeny, D.S., Introduction Strategic
Information System Planning, Oxford
England, 1997.
[4] Turban, Efrain, McFarlan E, & Watherbe, J.,
Information Technology for Management :
Marketing Connection for Stretegic
Advantage, second Edition, John Wiley &
Son Inc. New York, 2003.
[5] Tozer, E.E. Strategic IS/IT Planning,
Butterworth – Heinemann, Datamation Book
Series, USA, 1996.
[6] MITI., Coorporate Approaches to IT
Governance, Ministary of International
Trade and Industry, March 2002.

e-Teaching

1) e-Teaching is for teachers to teach effectively and happily. e-Teaching is to motivate and direct teachers to teach willingly. (Koichi Nakajima, Masumi Hori, Tezukayama University)
[ e-Teaching digunakan oleh prngajar untuk mengajar secara efektif dan menyenangkan. e-Teaching memotivasi dan mengajak guru untuk mengajar dengan sukarela]
2) e-Teaching involves the use of ICTs to enhance the art of teaching. Harnessing the potential of digital technology in presenting a concept, exploring implications, placing the concept in various contexts, creating links with existing knowledge, and leading discussions that probe student understanding and allow students to take their learning in personally relevant directions.(Peter Kent)
(e-Teaching melibatkan penggunakaan TIK untuk meningkatkan seni mengajar. Dengan memanfaatkan potensi teknologi digital dalam menyajikan sebuah konsep, mengeksplorasi penerapan, dan menempatkan konsep tersebut dalam berbagai konteks, menciptakan hubungan dengan pengetahuan yang ada, dan memimpin diskusi yang memungkinkan siswa memahami dan mengambil pelajaran secara mandiri sesuai dengan kemampuan pemahaman mereka

e-Education

E-Education adalah singkatan dari Electronic Education, merupakan sistem pendidikan berbasis media elektronik, seperti radio dan televisi dan sekarang e-education adalah pendidikan yang menggunakan internet sebagai media utamanya. Sistem E-education memungkinkan untuk diakses melalui berbagai terminal diberbagai tempat sesuai dengan mobilitas pengaksesannya, sehingga lahirlah mobile education (m-education)

e-Learning

e-Learning adalah singkatan dari Electronic Learning. Berikut ini ada beberapa pengertian tentang e-Learning, diantaranya:
• e-Learning adalah sistem pendidikan yang menggunakan aplikasi elektronik untuk mendukung belajar mengajar dengan media Internet, maupun jaringan computer.
• e-Learning adalah pembelajaran jarak jauh (Distance Learning) yang memanfaatkan teknologi komputer, jaringan komputer dan/atau Internet.
• e-Learning memungkinkan pembelajar untuk belajar melalui komputer di tempat mereka masing-masing tanpa harus secara fisik pergi mengikuti pelajaran/perkuliahan di kelas.
• e-Learning sering pula dipahami sebagai suatu bentuk pembelajaran berbasis web yang bisa diakses dari intranet di jaringan lokal atau internet.
Kesimpulannya: e-Learning merupakan suatu jenis belajar mengajar yang memungkinkan tersampaikannya bahan ajar ke pembelajar dengan menggunakan media Internet, Intranet atau media jaringan komputer lain untuk meningkatkan keefektivitasan pembelajaran dan mutu pendidikan.

E-Business

Business is all those activities involved in providing the goods and services needed or desired by people. Pada dasarnya bisnis merupakan aktivitas menyediakan barang dan jasa yang diperlukan atau diinginkan oleh orang (konsumen). Aktivitas yang dilakukan dalam bisnis melalui penyediaan barang dan jasa ini bertujuan untuk menghasilkan laba. Menurut Kismono (2001) bisnis merupakan proses sosial yang dilakukan oleh setiap individu atau kelompok melalui proses penciptaan dan pertukaran kebutuhan dan keinginan akan suatu produk tertentu yang memiliki nilai atau memperoleh manfaat atau keuntungan. Kata kunci dari pengertian bisnis adalah aktivitas (input, proses, output), pemenuhan kebutuhan, dan laba atau keuntungan.
Bisnis yang dapat diamati pada masa sekarang tidak lagi bisnis yang bersifat konvensional. Bisnis berbasis teknologi akhir-akhir ini sangat marak. Bisnis seperti ini kita kenal dengan e-business atau bisnis elektronik, yaitu bisnis yang dilakukan dengan memanfaatkan media elektronik (internet) sebagai alat untuk melakukan segala kegiatan bisnis tersebut. Ada dua macam jenis e-business yang biasa digunakan oleh pengusaha. Pertama, semi e-business yaitu menggunakan internet (website) sebagai sarana penyebaran informasi mengenai perusahaan dan produk yang dihasilkan, namun transaksi jual tetap dijalankan secara konvensional. Kedua, full e-business yaitu segala kegiatan operasional perusahaan dilaksanakan secara online baik pemasaran maupun transaksi jual belinya.

Pengertian E-Commerce

E-commerce atau bisa disebut Perdagangan elektronik atau e-dagang adalah penyebaran, pembelian, penjualan, pemasaran barang dan jasa melalui sistem elektronik seperti internet atau televisi, www, atau jaringan komputer lainnya. E-commerce dapat melibatkan transfer dana elektronik, pertukaran data elektronik, sistem manajemen inventori otomatis, dan sistem pengumpulan data otomatis.
Industri teknologi informasi melihat kegiatan e-dagang ini sebagai aplikasi dan penerapan dari e-bisnis (e-business) yang berkaitan dengan transaksi komersial, seperti: transfer dana secara elektronik, SCM (supply chain management), e-pemasaran (e-marketing), atau pemasaran online (online marketing), pemrosesan transaksi online (online transaction processing), pertukaran data elektronik (electronic data interchange /EDI), dll.
E-dagang atau e-commerce merupakan bagian dari e-business, di mana cakupan e-business lebih luas, tidak hanya sekedar perniagaan tetapi mencakup juga pengkolaborasian mitra bisnis, pelayanan nasabah, lowongan pekerjaan dll. Selain teknologi jaringan www, e-dagang juga memerlukan teknologi basisdata atau pangkalan data (databases), e-surat atau surat elektronik (e-mail), dan bentuk teknologi non komputer yang lain seperti halnya sistem pengiriman barang, dan alat pembayaran untuk e-dagang ini.
E-commerce pertama kali diperkenalkan pada tahun 1994 pada saat pertama kali banner-elektronik dipakai untuk tujuan promosi dan periklanan di suatu halaman-web (website). Menurut Riset Forrester, perdagangan elektronik menghasilkan penjualan seharga AS$12,2 milyar pada 2003. Menurut laporan yang lain pada bulan oktober 2006 yang lalu, pendapatan ritel online yang bersifat non-travel di Amerika Serikat diramalkan akan mencapai seperempat trilyun dolar US pada tahun 2011.
Dalam banyak kasus, sebuah perusahaan e-commerce bisa bertahan tidak hanya mengandalkan kekuatan produk saja, tapi dengan adanya tim manajemen yang handal, pengiriman yang tepat waktu, pelayanan yang bagus, struktur organisasi bisnis yang baik, jaringan infrastruktur dan keamanan, desain situs web yang bagus, beberapa faktor yang termasuk:
1. Menyediakan harga kompetitif
2. Menyediakan jasa pembelian yang tanggap, cepat, dan ramah.
3. Menyediakan informasi barang dan jasa yang lengkap dan jelas.
4. Menyediakan banyak bonus seperti kupon, penawaran istimewa, dan diskon.
5. Memberikan perhatian khusus seperti usulan pembelian.
6. Menyediakan rasa komunitas untuk berdiskusi, masukan dari pelanggan, dan lain-lain.
7. Mempermudah kegiatan perdagangan
Beberapa aplikasi umum yang berhubungan dengan e-commerce adalah:
* E-mail dan Messaging
* Content Management Systems
* Dokumen, spreadsheet, database
* Akunting dan sistem keuangan
* Informasi pengiriman dan pemesanan
* Pelaporan informasi dari klien dan enterprise
* Sistem pembayaran domestik dan internasional
* Newsgroup
* On-line Shopping
* Conferencing
* Online Banking
Perusahaan yang terkenal dalam bidang ini antara lain: eBay, Yahoo, Amazon.com

E- laboratory

Laboratorium elektronik lebih seperti situs dari sebuah lembaga pendidikan yang sengaja dibuat untuk mempublikasikan penelitian-penelitian yang mereka lakukan.

Penggunaan software atau animasi-animasi sebagai pengganti alat peraga laboratorium juga dapat dikatakan sebagai bentuk dari laboratorium elektronik. Karena mengganti peralatan laboratorium dengan peralatan berbasis komputer. Sehingga pengajar tidak perlu repot-repot membawa atau menyediakan peralatan laboratorium, dan penjelasan yang membutuhkan gambaran dapat diberikan dengan cara animasi yang lebih menarik minat pelajar. Seperti misalnya memberikan gambaran tentang sistem pencernaan makanan dengan menggunakan animasi.

Beberapa kelebihan dari e-laboratory yaitu:
1. Tidak repot membawa alat peraga.
2. Lebih menarik minat pelajar dan lebih mudah memberikan gambaran.
3. Dapat mempublikasikan penelitian-penelitian yang telah ataupun sedang dilakukan secara lebih meluas, hal ini juga mengandung unsur pemasaran tentang kemajuan instansi tersebut.
4. Menghindari penelitian berulang (reinvent the wheel), sehingga mempercepat perkembangan ilmu dan teknologi.

Kelemahannya dari e-laboratory adalah:
1. Belum semua lembaga pendidikan terhubung dengan internet dan memiliki situs, dan tidak semua pengajar akrab dengan teknologi ini.
2. Tidak semua perguruan tinggi mau membagi hasil penelitiannya karena unsur plagiasi

Pengertian E-mail

E-mail adalah surat melalui media elektronik.Sebenarnya email merupakan singkatan dari “Electronic mail”.Melalui email kita dapat mengirim surat elektronik baik berupa teks maupun gabungan dengan gambar, yang dikirimkan dari satu alamat email ke alamat lain di jaringan internet.Apabila kita mengirim surat melalui email kita dapat memperoleh beberapa keuntungan.Antara lain, dengan menggunakan email surat (informasi) yang kita kirim ke alamat email lain akan secara langsung diterima, selain itu biaya yang kita keluarkan cukup murah.Sebuah alamat email biasanya memiliki format semacam username@host.domain.Saat ini ISP yang menyediakan layanan pembuatan email secara gratis adalah yahoo.com dan plasa.com.Sebagai contoh kita membuat email melalui

Rabu, 30 November 2011

Definisi dan Manfaatnya WBS

Definisi WBS • WBS adalah sebuah deliverable – orientated collection of project Component • Menampilkan gambar / grafik tentang hirarki proyek • WBS bisa diartikan sebagai teknik untuk : • Membagi keseluruhan proyek kedalam komponen-komponen • Memecah komponen ke level-level berikutnya sampai dengan tugas • Setiap tugas yang dimaksud merupakan unit yang dapat dikelola (direncanakan, dianggarkan, dijadwalkan dan dikendalikan) / Manageable unit Struktur WBS Sebuah proyek yang komplek agar mudah dikendalikan harus diuraikan dalam bentuk komponen-komponen individual dalam struktur hirarki, yang dikenal dengan Work Breakdown Structure (WBS). Pada dasarnya WBS merupakan suatu daftar yang bersifat top down dan secara hirarkis menerangkan komponen-komponen yang harus dibangun dan pekerjaan yang berkaitan dengannya Struktur dalam WBS mendefinisikan tugas-tugas yang dapat diselesaikan secara terpisah dari tugas-tugas lain, memudahkan alokasi sumber daya, penyerahan tanggung jawab, pengukuran dan pengendalian proyek. Pembagian tugas menjadi sub tugas yang lebih kecil tersebut dengan harapan menjadi lebih mudah untuk dikerjakan dan diestimasi lama waktunya.Sebagai gambaran, Work breakdown structure (WBS) dapat diilustrasikan seperti diagram blok berikut: Model WBS memberikan beberapa keuntungan, antara lain : • Memberikan daftar pekerjaan yang harus diselesaikan • Memberikan dasar untuk mengestimasi, mengalokasikan sumber daya, menyusun jadwal, dan menghitung biaya • Mendorong untuk mempertimbangkan secara lebih serius sebelum membangun suatu proyek . Dikarenakan WBS merupakan struktur yang bersifat hirarki, maka bisa juga disampikan dalam bentuk skema sebagai berikut : Sebagai gambaran praktis, berikut ini dicontohkan sebagian dari struktur WBS dalam sebuah proyek pembangunan Intranet. Perbedaan Level Dan Tingkat Kedetailan WBS Setiap organisasi menggunakan terminologinya sendiri untuk mengklasifikasi komponen WBS sesuai levelnya dalam hirarki. Sebagai contoh, beberapa organisasi memperlihatkan level-level yang berbeda sebagai tugas (task), sub-tugas (sub-task) dan paket pekerjaan (work package) sebagaimana yang ditunjukkan dalam bagan diatas. Sementara organisasi lain mungkin menggunakan istilah fase (phase), entri (entry) dan aktifitas (activity). WBS mungkin saja disusun mengikuti pembagian atau pentahapan dalam siklus hidup proyek ( the project life cycle). Level-level yang lebih tinggi dari struktur umumnya dikerjakan oleh kelompok-kelompok. Level yang paling rendah dalam hirarki seringkali terdiri dari aktifitas-aktifitas dilakukan secara individual, kendati demikian sebuah WBS yang menitikberatkan pada “deliverable” tidak memerlukan aktifitas-aktifitas yang spesifik. Melakukan rincian sebuah proyek ke dalam bagian-bagian komponen yang lebih kecil akan memudahkan pembagian alokasi sumber daya dan pemberian tanggung jawab individual. Perlu kiranya memberi perhatian pada penggunaan detail level yang layak ketika hendak membuat WBS. Dalam kondisi ekstrim, detail level yang sangat tinggi akan menyerupai hasil dalam manajemen mikro. Sedangkan kondisi ekstrim kebalikannya, tugas-tugas mungkin akan menjadi demikian lebar untuk bisa di-manage secara efektif. Kendati demikian, menetapkan tugas-tugas dalam pekerjaan yang berdurasi beberapa hari maupun beberapa bulan merupakan hal yang baik di hampir kebanyakan proyek. Peran WBS Dalam Perencanaan Proyek WBS merupakan pondasi untuk perencanaan proyek. WBS dibuat sebelum ketergantungan diidentifikasi dan lamanya aktifitas pekerjaan diestimasi. WBS juga dapat digunakan untuk mengidentifikasi tugas-tugas dalam model perencanaan proyek. Oleh karena itu, idealnya rancangan WBS sendiri harusnya telah diselesaikan sebelum pengerjaan perencanaan proyek (project plan) dan penjadwalan proyek (project schedule). Dengan memanfaatkan daftar pekerjaan pada WBS, akan dapat diperkirakan lamanya waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan setiap pekerjaan tersebut. Perkiraan bisa dilakukan dengan mempertimbangan beberapa hal, antara lain ketersediaan sumber daya dan kompleksitas. Selanjutnya dilakukan penjabaran dalam kalender (flow time)




Manfaat daftar pekerjaan pada WBS, akan dapat diperkirakan lamanya waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan setiap pekerjaan tersebut. Perkiraan bisa dilakukan dengan mempertimbangan beberapa hal, antara lain ketersediaan sumber daya dan kompleksitas.

Selanjutnya dilakukan penjabaran dalam kalender (flow time). Beberapa model pendekatan bisa digunakan untuk menghitung perkiraan waktu yang diperlukan :

• Most optimistic : Merupakan waktu ideal untuk menyelesaikan pekerjaan, diasumsikan segala sesuatunya berjalan lancar, dan sempurna.

• Most likely : Merupakan waktu yang dibutuhkan pada kondisi kebanyakan, tipikal dan normal.

• Most pessimistic :Merupakan waktu yang dibutuhkan ketika keadaan paling sulit terjadi.

Selanjutnya, estimasi waktu dilakukan dan dibagi dalam unit (misal 8 jam/hari). Estimasi waktu untuk suatu proyek Intranet (seperti contoh diatas) lebih sulit dari proyek pengembangan aplikasi lainnya. Hal ini karena masih sedikit proyek yang dapat digunakan sebagai patokan menghitung waktu pelaksanaan.

Dalam mengestimasi waktu ini juga harus dipertimbangkan beberapa hal, misal pengalaman teknologi server yang digunakan, keahlian Perl, CGI, Java, HTML, browser, dan juga bekerja dalam lingkungan TCP/IP.

Setelah WBS berhasil disusun dan perkiraan lama waktu pelaksanaan telah dihitung, selanjutnya dilakukan penyusunan jadwal kerja. Pada dasarnya ada dua jenis model deskripsi penjadwalan, yaitu :

1. Bar Chart : Yang hanya menerangkan flow time dari setiap pekerjaan dan tanpa keterkaitan antar pekerjaan. Deskripsi ini paling baik digunakan pada presentasi

2. Network diagram : Yang menunjukkan keterkaitan antar tugas dan mengidentifikasi saat kritis pada jadwal.

Jumat, 14 Oktober 2011

Thread Dalam Solaris 2



Solaris 2 merupakan salah satu versi dari UNIX yang sampai dengan tahun 1992 hanya masih mendukung proses berat (heavyweight) dengan kontrol oleh satu buah thread. Tetapi sekarang Solaris 2 sudah berubah menjadi sistem operasi yang modern yang mendukung threads di dalam level kernel dan pengguna, multiprosesor simetrik (SMP), dan penjadualan real-time.
Thread di dalam Solaris 2 sudah dilengkapi dengan library mengenai API-API untuk pembuatan dan managemen thread. Di dalam Solaris 2 terdapat juga level tengah thread. Di antara level pengguna dan level kernel thread terdapat proses ringan/ lightweight (LWP). Setiap proses yang ada setidaknya mengandung minimal satu buah LWP. Library thread memasangkan beberapa thread level pengguna ke ruang LWP-LWP untuk diproses, dan hanya satu user-level thread yang sedang terpasang ke suatu LWP yang bisa berjalan. Sisanya bisa diblok mau pun menunggu untuk LWP yang bisa dijalankan.
Operasi-operasi di kernel seluruhnya dieksekusi oleh kernel-level threads yang standar. Terdapat satu kernel-level thread untuk tiap LWP, tetapi ada juga beberapa kernel-level threads yang berjalan di bagian kernel tanpa diasosiasikan dengan suatu LWP (misalnya thread untuk pengalokasian disk). Thread kernel-level merupakan satu-satunya objek yang dijadualkan ke dalam sistem (lihat bagian berjudul Penjadual CPU mengenai scheduling). Solaris menggunakan model many-to-many.
Thread level pengguna dalam Solaris bisa berjenis bound mau pun unbound. Suatu bound thread level pengguna secara permanen terpasang ke suatu LWP. Jadi hanya thread tersebut yang bekerja di LWP, dan dengan suatu permintaan, LWP tersebut bisa diteruskan ke suatu prosesor. Dalam beberapa situasi yang membutuhkan waktu respon yang cepat (seperti aplikasi real-time), mengikat suatu thread sangatlah berguna. Suatu thread yang unbound tidak secara permanen terpasang ke suatu LWP. Semua threads unbound dipasangkan (secara multiplex) ke dalam suatu ruang yang berisi LWP-LWP yang tersedia untuk aplikasi. Secara default thread-thread yang ada adalah unbound.
Misalnya sistem sedang beroperasi, setiap proses bisa mempunyai threads level pengguna yang banyak. User-user level thread ini bisa dijadual dan diganti di antara LWP-LWP-nya oleh thread library tanpa intervensi dari kernel. User-level threads sangatlah efisien karena tidak dibutuhkan bantuan kerja kernel oleh thread library untuk menukar dari satu user-level thread ke yang lain.
Setiap LWP terpasang dengan tepat satu kernel-level thread, dimana setiap user-level thread tidak tergantung dari kernel. Suatu proses mungkin mempunyai banyak LWP, tetapi mereka hanya dibutuhkan ketika thread harus berkomunikasi dengan kernel. Misalnya, suatu LWP akan dibutuhkan untuk setiap thread yang bloknya konkuren di sistem pemanggilan. Anggap ada lima buah pembacaan berkas yang muncul. Jadi dibutuhkan lima LWP, karena semuanya mungkin mengunggu untuk penyelesaian proses I/O di kernel. Jika suatu proses hanya mempunyai empat LWP, maka permintaan yang kelima harus menunggu unuk salah satu LWP kembali dari kernel. Menambah LWP yang keenam akan sia-sia jika hanya terdapat tempat untuk lima proses.
Kernel-kernel threads dijadual oleh penjadual kernel dan dieksekusi di CPU atau CPU-CPU dalam sistemnya. Jika suatu kernel thread memblok (misalnya karena menunggu penyelesaian suatu proses I/O), prosesor akan bebas untuk menjalankan kernel thread yang lain. Jika thread yang sedang terblok sedang menjalankan suatu bagian dari LWP, maka LWP tersebut akan ikut terblok. Di tingkat yang lebih atas lagi, user-level thread yang sedang terpasang ke LWP tersebut akan terblok juga. Jika suatu proses mempunyai lebih dari satu LWP, maka LWP lain bisa dijadual oleh kernel.
Para pengembang menggunakan struktur-struktur data sebagai berikut untuk mengimplementasikan thread-thread dalam Solaris 2:
Suatu user-level thread mempunyai thread ID, himpunan register (mencakup suatu PC dan stack pointer), stack dan prioritas (digunakan oleh library untuk penjadualan). Semua struktur data tersebut berasal dari ruang user.
Suatu LWP mempunyai suatu himpunan register untuk user-level thread yang ia jalankan, juga memori dan informasi pencatatan. LWP merupakan suatu struktur data dari kernel, dan bertempat pada ruang kernel.
Suatu kernel thread hanya mempunyai struktur data yang kecil dan sebuah stack. Struktur datanya melingkupi copy dari kernel-kernel registers, suatu pointer yang menunjuk ke LWP yang terpasang dengannya, dan informasi tentang prioritas dan penjadualan.
Setiap proses dalam Solaris 2 mempunyai banyak informasi yang terdapat di process control block (PCB). Secara umum, suatu proses di Solaris mempunyai suatu proses id (PID), peta memori, daftar dari berkas yang terbuka, prioritas, dan pointer yang menunjuk ke daftar LWP yang terasosiasi kedalam proses.

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Enterprise Project Management